LombokPost - Bermain rileks, banyak senyum, termasuk ketika melakukan kesalahan, jadi salah satu pilar kesuksesan Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto di Indonesia Open 2026. Mereka memilih menikmati tiap turnamen dan tak mau berpikir terlalu jauh.
YUKI Fukushima/Mayu Matsumoto langsung berjingkrak dan bersorak gembira ketika bola pengembalian ganda Tiongkok Liu Sheng Shu/Tan Ning tak bisa melewati net. Gelar Super 1000 pertama di tahun ini pun berhasil direbut.
Kemenangan 21-15, 18-21, 21-18 itu menjadi raihan yang tidak main-main. Tak cuma karena titel tersebut diraih saat usia mereka sudah kepala tiga. Tapi, juga karena lawan yang dihadapi adalah pasangan nomor satu dunia yang terpaut jauh secara usia dan telah tiga kali mengalahkan mereka sebelumnya dari empat pertemuan.
Sepanjang laga, juga sepanjang Indonesia Open 2026, Fukushima/Matsumoto terlihat begitu menikmati permainan. Bahkan ketika bola tanggung tak bisa dijangkau dan berujung poin bagi lawan, keduanya tetap tersenyum.
Menurut Matsumoto, itulah salah satu cara untuk mengatasi ketegangan di lapangan. Ia menyatakan, “Kami tidak mau kalah secara mental, dan saya rasa itulah kunci kemenangan kami hari ini (Ahad, 7/6),” ungkapnya.
Publik Istora mayoritas juga mendukung keduanya dengan selalu meneriakkan nama kedua mantan pemain ganda putri nomor satu dunia dengan pasangan berbeda itu.
“Saking ramainya penonton, suara shuttlecock sampai tidak terdengar,” kata Fukushima seraya tertawa.
Di Indonesia Open, sebenarnya dua kali Fukushima/Matsumoto menyingkirkan wakil Indonesia. Masing-masing Lanny Tria Mayasari/Apriyani Rahayu di babak 32 besar (21-18, 21-19) dan Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi di perempat final (21-13, 12-21, 21-13).
Namun, dari babak awal hingga partai puncak, banyak sekali fans tuan rumah yang tetap mendukung dengan memanggil nama keduanya.
Baca Juga: Pembinaan Atlet Bulu Tangkis Berprestasi Jadi Tantangan, Berharap Dukungan Pemerintah dan PBSI
“Saat kami melakukan pukulan yang bagus, penonton bersorak. Meskipun kami melakukan kesalahan, mereka juga tetap memberikan dukungan. Bertanding di sini sangat menyenangkan,” tuturnya.
Tanpa Beban
Matsumoto, 31, pernah menjadi ganda putri nomor satu dunia bersama Wakana Nagahara. Sedangkan Fukushima, 33, lebih dulu menduduki peringkat terhormat tersebut bersama Sayaka Hirota.
Karena sudah sama-sama senior, tak ada target muluk yang dibebankan ketika keduanya diduetkan mulai 2024, tepatnya di Kumamoto Masters Japan yang berlangsung pada 12–17 November. Hal itu justru membuat mereka tampil tanpa beban. Buahnya, perlahan peringkat mereka terus naik. Kini mereka menduduki posisi keenam dunia.
Saat ini keduanya termasuk paling senior untuk nomor ganda putri di blantika bulu tangkis dunia. Karena itu, mereka sudah terbiasa menghadapi lawan yang lebih muda.
“Sebenarnya tidak ada trik khusus untuk fisik. Yang pasti, istirahat harus dijaga dan latihan juga tetap dilakukan dengan maksimal,” ucap Fukushima.
Hal ini pula yang membuatnya ingin terus bermain rileks dan menikmati tiap turnamen. Ia dan Matsumoto tidak berpikir terlalu jauh atau memasang target tertentu.
Bagi Fukushima, ini gelar ketiganya di Indonesia Open. Dua raihan sebelumnya dicatat bersama Sayaka Hirota pada edisi 2018 dan 2019. Sedangkan bagi Matsumoto, ini gelar perdananya.
Saat menjuarai edisi 2018, pasangan yang dikalahkan Fukushima/Hirota adalah Matsumoto/Nagahara. Sedangkan pada 2019, pasangan Jepang lainnya yang dikalahkan adalah Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi.
“Selama ini kami lebih sering jadi rival. Kali ini bisa berdiri di lapangan yang sama sebagai rekan dan itu sangat membahagiakan bagi saya,” tutur Mayu. (RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online