Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Para Pahlawan dari Negeri Seberang, Nasionalisme Tidak Ditulis di Atas Batu

Redaksi • Jumat, 19 Juni 2026 | 14:13 WIB
Seorang pemain Australia saat bertanding di Piala Dunia 2026, beberapa waktu lalu. Bersiap kini AS vs Australia.
Seorang pemain Australia saat bertanding di Piala Dunia 2026, beberapa waktu lalu. Bersiap kini AS vs Australia.

LombokPost – Dari Viking sampai Columbus. Sejarah Amerika Serikat (AS) tumbuh dari pertemuan mereka yang datang dengan yang telah lebih dulu menghuni.

It's a long way we've come, kata U2 dalam lagu The Hands That Built America, yang menjadi soundtrack film Gangs of New York. Mereka mungkin datang dari jauh, tetapi tangan-tangan merekalah yang kemudian ikut membangun Amerika.

Jadi, sangatlah mengherankan kalau kemudian Presiden AS Donald Trump memberlakukan kebijakan imigrasi yang intimidatif, termasuk kepada para tamu negaranya selama perhelatan Piala Dunia 2026.

Baca Juga: Menyulap Anyaman Menjadi Warna-Warni Piala Dunia 2026, Misi Kenalkan Identitas Desa Pajangan hingga Pasar Global

Sebab, siapa sebenarnya "orang Amerika" itu? Giovanni Reyna yang mencetak gol keempat saat AS menundukkan Paraguay 4-1 di laga pertama Grup D, misalnya, lahir di Sunderland, Inggris, dari ayah seorang warga AS keturunan imigran Argentina.

Folarin Balogun yang menyumbangkan dua gol di laga yang sama bahkan hanya "numpang lahir" di Negeri Paman Sam sebelum dibesarkan di Inggris oleh ayah dan ibu yang sama-sama berasal dari Nigeria.

Beruntung, di lapangan hijau, AS tak berupaya mengingkari kemajemukan itu. 

Baca Juga: Sepak Bola Uzbekistan Melesat Cepat: Masuk Kurikulum, lalu Masuk Piala Dunia

Begitu pula Australia yang akan mereka hadapi dini hari nanti WIB di Stadion Lumen Field, Seattle.

Socceroos akan tetap mengandalkan Mohamed Toure, penyerang kelahiran Conakry, Guinea, yang mengungsi ke Negeri Kanguru setelah terjadi perang saudara. 

Dia tiba di Australia pada 2004 setelah 14 tahun tinggal di kamp pengungsi.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Harry Kane Ngamuk Cetak Brace, Inggris Menang Sempurna

"Memakai jersi Socceroos melambangkan kebebasan," sebut Toure, sebagaimana dilansir The Guardian.

Bersaudara Beda Timnas

Nasionalisme tidak ditulis di atas batu. Dia adalah air yang mengalir seturut zaman. Semacam cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan.

Harry Souttar, contohnya. Dia lahir dan besar di Aberdeen, Skotlandia, berkarier di Inggris, tetapi menambatkan cinta kepada Australia, tempat ibunya berasal. Namun, tidak dengan kakaknya, John Souttar, yang lebih memilih berkostum Skotlandia dan ikut dibawa ke Piala Dunia 2026.

Mengutip BBC, Jack dan Heather Souttar, orang tua John serta Harry, telah pergi ke AS. Meski berbeda tim nasional, keduanya akan tetap mendukung kedua buah hatinya.

"Sekalipun kami berasal dari Skotlandia, dukungan kami kepada Harry tidak berkurang," kata Jack.

Demikianlah memang seharusnya. Tanah air dan nasionalisme harus selalu siap ditafsir ulang dengan kemanusiaan serta persaudaraan menjadi konsideran penting.

Toh Alejandro Zendejas bakal siap mengerahkan segala kemampuan untuk Amerika, negeri di seberang Meksiko tempat dia lahir dan menghabiskan masa junior. Dan, siapa pula yang meragukan komitmen Sergino Dest terhadap The Yanks, sekalipun ia lahir di Belanda dan menghabiskan seluruh kariernya di Eropa. (*/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Meksiko #australia #amerika #eropa #piala dunia