LombokPost - Sebelum berduel dengan Inggris di Boston Stadium, Foxborough, Amerika Serikat (AS), dini hari nanti WIB, Ghana sudah “menang duluan” dari negeri bekas penjajahnya itu.
Mengutip BBC, Maret lalu Ghana mengusulkan resolusi kepada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar mengakui perbudakan orang Afrika sebagai kejahatan kemanusiaan terberat.
Hasil pemungutan suara, resolusi itu didukung 123 negara. Sebanyak 52 negara abstain, termasuk Britania Raya dan para anggota Uni Eropa. Hanya tiga negara yang menentang: AS, Israel, dan Argentina.
Baca Juga: Epic Comeback! Aljazair Hancurkan Mimpi Yordania di Piala Dunia 2026
Lewat resolusi itu, Ghana mendesak negara-negara anggota PBB mempertimbangkan permintaan maaf atas perdagangan budak dan berkontribusi pada dana pemulihan.
“Pengesahan resolusi ini adalah perjuangan melawan luka,” kata Presiden Ghana John Dramani Mahama.
Menteri Luar Negeri Ghana Samuel Okudzeto Ablakwa juga menyuarakan perlunya kompensasi. “Perlu kami tegaskan, para pemimpin Afrika takkan meminta uang untuk diri mereka sendiri. Kompensasi yang kami tuntut untuk dana pendidikan, dana abadi, dan dana pelatihan keterampilan,” katanya.
Baca Juga: Lionel Messi dan Kylian Mbappe Rebutan Takhta Raja Gol Piala Dunia 2026
Keterikatan Sejarah
Karena keterikatan sejarah sebagai penjajah dan terjajah, sejumlah pemain Three Lions dan Black Stars pun mengalami persilangan identitas. Antoine Semenyo lahir dan besar di Inggris, tetapi membela Ghana, negara asal sang ayah.
Sebaliknya, Kobbie Mainoo, yang lahir dari ayah dan ibu yang sama-sama berasal dari Ghana, memilih membela Inggris, negeri tempat dia lahir dan besar.
Baca Juga: Erling Haaland Menggila, Norwegia Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Dari masa ke masa, juga selalu ada perwakilan Ghana di Premier League Inggris. Pemerintah Inggris dan Federasi Sepak Bola Ghana (GFA) juga menjalin kerja sama dalam membibit talenta Ghana di Inggris.
Mantan pelatih Ghana Otto Addo pun meminta para penggawa Black Stars tidak terbuai oleh hubungan emosional antara kedua negara.
“Laga ini bakal menarik karena Ghana memang memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Inggris,” kata Addo, seperti dilansir CAF Online. (ren/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online