Lombok Post — Putaran ketiga Mandalika Racing Series (MRS) 2026 menyajikan drama tingkat tinggi pada Race 1 kelas National Supersport 600cc di Sirkuit Internasional Mandalika, Sabtu (25/7).
Persaingan sengit sejatinya didominasi oleh pembalap tuan rumah, Arai Agaska Dibani Laksana. Tampil impresif dan sempat memimpin jalannya balapan, petaka menghampiri Arai ketika berada di tikungan 17.
Ia mengalami kecelakaan (crash) yang memaksanya gagal finis (DNF) dan harus mengubur asa meraih kemenangan di kandang sendiri.
Baca Juga: Fahmi Basam Rajai Race 1 National Sport 150cc MRS Round 3 di Mandalika
Keluarnya Arai dari persaingan dimanfaatkan secara maksimal oleh Wahyu Nugroho (Yamaha Pikoli Global Ondolomon DRS) yang akhirnya merebut podium utama dengan catatan waktu 16 menit 33,974 detik.
Muhammad Faerozi Toreqottullah menyusul di posisi kedua dengan selisih 1 menit 02,169 detik.
Drama tak berhenti di situ. Sorotan utama di lintasan beralih ke Herjun Atna Firdaus (Astra Honda Racing Team). Saat perebutan posisi di last lap, Herjun bersenggolan dengan Faerozi hingga terjatuh.
Kondisi sepeda motor yang mati total tak memadamkan semangat juang pembalap asal Pati tersebut.
Baca Juga: InJourney Airports Dukung Konservasi Bahari hingga Ekonomi Warga
Di bawah sengatan terik matahari Mandalika, Herjun memilih bangkit dan memapah kuda besinya sejauh ratusan meter hingga melewati garis finis demi mengamankan podium ketiga serta poin berharga.
Aksi spartan Herjun langsung memicu riuh tepuk tangan dan apresiasi dari para penonton serta jajaran tim di paddock Sirkuit Mandalika.
CEO PRIDE Motorsport Eddy Syahputra, mengapresiasi sengitnya persaingan di kelas ini. Ia menilai peta persaingan musim ini jauh lebih merata dibanding tahun lalu.
Baca Juga: ITDC Tanam 4.500 Mangrove di KEK Mandalika
"Tahun lalu Wahyu Nugroho sangat dominan, tetapi tahun ini semua pembalap mampu berimprovisasi sehingga Wahyu cukup kesulitan meninggalkan lawan. Wahyu sempat tertinggal di lap-lap awal, tapi keberuntungan berpihak padanya sehingga di last lap ia bisa memimpin," ungkap Eddy.
Terkait aksi Herjun yang mendorong motor hingga garis finis, Eddy mengonfirmasi bahwa hal tersebut sah secara regulasi.
"Secara aturan ini diperbolehkan, selama dia mendorong motornya sendiri dan lokasi jatuhnya masih di dalam area lintasan," jelasnya.
Eddy menilai Herjun tampil sangat agresif dan pantang menyerah. Di last corner, Herjun memaksakan diri mengambil posisi kedua, namun sayangnya motornya bersenggolan dan terjatuh.
Sementara untuk Arai Agaska, Eddy menilai pembalap muda itu sebenarnya memiliki pola balapan yang bagus, namun bermain terlalu agresif.
"Arai tampaknya belum memahami braking point dengan sempurna. Karena belum paham, dia sering out di setiap tikungan dan akhirnya terjatuh menjelang last corner," pungkas Eddy.
Editor : Prihadi ZoldicSumber : Liputan