LombokPost— Fenomena perundungan siber (cyberbullying) kembali menimpa atlet profesional di panggung olahraga dunia. Jelena Ostapenko menghadapi tekanan besar setelah tersingkir di Canadian Open 2026.
Petenis berkebangsaan Latvia itu menerima hujatan hingga ancaman kematian dari sejumlah pengguna media sosial usai dikalahkan Zhang Shuai (Tiongkok) pada Rabu (5/8/2026).
Dalam laga tersebut, kendala fisik memaksa sang atlet menyudahi pertandingan lebih awal sebelum seluruh set selesai. Dalam laga itu, Ostapenko memutuskan mundur saat tertinggal 0-6, 0-4 karena masalah kesehatan. Setelah pertandingan, petenis berusia 29 tahun itu membagikan tangkapan layar pesan-pesan tersebut lewat fitur story di Instagram.
Gelombang Serangan Siber dan Intimidasi
Isi pesan singkat yang diunggah ke ruang publik tersebut menunjukkan tingginya tingkat perundungan yang mengarah pada ranah pribadi sang atlet. Kumpulan pesan itu di antaranya berisi ejekan terhadap kondisi fisik Ostapenko.
Beberapa menyebut dirinya tidak pantas tampil di level tenis profesional. Salah satu pengguna bahkan berharap anggota keluarga Ostapenko meninggal dunia, serta sang petenis mengalami cedera.
Realita Sisi Gelap Olahraga Profesional
Tindakan intimidasi tersebut ditanggapi Ostapenko sebagai cerminan dari tantangan mental yang kerap dialami para atlet dunia di luar lapangan.
”Pesan-pesan luar biasa yang Anda terima setelah hari yang sangat buruk. Saya yakin tidak ada dari kalian yang tahu seperti apa olahraga profesional,” tulis Ostapenko di Instagram seperti dikutip Sportskeeda.
”Inilah yang harus dihadapi atlet profesional setelah hampir setiap kekalahan,” lanjut juara grand slam French Open 2017 tersebut.
Editor : Redaksi Lombok Post