ARRC 2026 Momentum Kebangkitan Pembalap Indonesia

Lestari Dewi • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 09:14 WIB
PEKAN INI: Puluhan pembalap mulai bersiap di atas kuda besi masing-masing menjelang balapan di Sirkuit Internasional Mandalika, beberapa waktu lalu.
PEKAN INI: Puluhan pembalap mulai bersiap di atas kuda besi masing-masing menjelang balapan di Sirkuit Internasional Mandalika, beberapa waktu lalu.

 

LombokPost - Sirkuit Internasional Mandalika kembali menjadi pusat perhatian balap motor Asia dengan bergulirnya putaran keempat LFN FIM Asia Road Racing Championship (ARRC) 2026 pada 7—9 Agustus 2026 pekan ini. 

Sebagai seri yang berlangsung di Indonesia, balapan di Sirkuit Mandalika bukan hanya menjadi ajang perebutan poin penting menuju perebutan gelar juara Asia, tetapi juga menghadirkan harapan besar bagi para pembalap Tanah Air untuk memanfaatkan keuntungan tampil di kandang sendiri.

Tercatat 28 pembalap Indonesia sebagai peserta regular di semua kelas. Jumlah pembalap Indonesia ASB1000 ada dua pembalap, SS600 ada lima pembalap, AP250 ada 10 pembalap, UB150 ada 11 pembalap, dan one make race TVS ada satu pembalap.

Baca Juga: Wahyu Nugroho Siap Mengguncang Mandalika di ARRC 2026, All Out Setiap Laga, Siap Redam Perlawanan

Pengamat otomotif sekaligus mantan CEO Mandalika Grand Prix Association (MGPA) periode 2022—2026 Priandhi Satria menilai, faktor home advantage dapat menjadi pembeda bagi pembalap Indonesia. Namun menurutnya, keuntungan tersebut tidak serta-merta menjamin kemenangan apabila tidak dibarengi kesiapan teknis, strategi tim, dan konsistensi sepanjang akhir pekan.

”Keuntungan terbesar bukan sekadar karena balapan digelar di Indonesia, tetapi karena sebagian besar pembalap Indonesia sudah sangat mengenal karakter Sirkuit Mandalika melalui latihan rutin maupun kejurnas MRS,” ujar Andhi.

Menurutnya, pengalaman panjang para pembalap nasional di Mandalika memberikan keuntungan dalam memahami racing line, karakter tikungan cepat, titik pengereman, hingga perubahan grip lintasan. Faktor cuaca tropis, temperatur aspal, dan dukungan langsung ribuan penonton Indonesia juga diyakini mampu meningkatkan motivasi sekaligus rasa percaya diri para pembalap.

Baca Juga: Intip Persiapan Sengit Pembalap Menjelang ARRC 2026 di Mandalika, Herjun Atna Firdaus dan Ambisi Honda Menuju Takhta SS600

Meski demikian, Andhi mengingatkan bahwa keuntungan tersebut kini tidak lagi sebesar beberapa tahun lalu. Pembalap Thailand, Jepang, dan Malaysia sudah beberapa kali tampil di Mandalika sehingga tingkat adaptasi mereka semakin baik.

”Keuntungan kandang akan lebih efektif apabila mampu dikombinasikan dengan paket motor yang kompetitif, strategi tim yang tepat, serta eksekusi balapan yang konsisten sepanjang akhir pekan,” katanya.

Salah satu kelas yang paling dinantikan publik Indonesia adalah Asia Production 250 (AP250). Selama bertahun-tahun kelas ini identik dengan dominasi pembalap Indonesia, tetapi musim 2026 memperlihatkan persaingan yang jauh lebih kompetitif. Andhi menilai, dominasi Indonesia kini mendapat tantangan serius dari Thailand dan Jepang. 

Pemuncak klasemen sementara ditempati pembalap Thailand Krittapat Keankum, sementara posisi kedua dihuni Hiroki Ono dari Jepang. Di kubu Indonesia, Rheza Danica Ahrens menjadi pembalap nasional terbaik yang masih berada dalam perebutan gelar juara.

Musim 2026 menunjukkan bahwa persaingan AP250 jauh lebih terbuka dibanding beberapa musim sebelumnya. Namun peluang Indonesia tetap sangat besar di Mandalika. 

Baca Juga: Intip Persiapan Sengit Pembalap Menjelang ARRC 2026 di Mandalika, Debut Rookie Felix Putra Mulya di Kelas para Raja

Rheza Danica Ahrens merupakan pembalap Indonesia yang paling konsisten sepanjang tiga putaran awal, sementara Candra Hermawan menunjukkan tren performa yang stabil. ”Irfan Ardiansyah juga layak diperhitungkan setelah tampil sangat kuat pada putaran terakhir,” jelasnya.

Persaingan diprediksi semakin berat pada kelas Supersport 600 (SS600) dan Asia Superbike 1000 (ASB1000). Di kedua kelas tersebut, pembalap Malaysia, Thailand, dan Jepang tampil sangat dominan sejak awal musim. Di SS600, Herjun Atna Firdaus dan Wahyu Nugroho masih menjadi tumpuan Indonesia. 

Sementara pada ASB1000, peluang Indonesia sedikit berkurang setelah Andi Farid Izdihar dipastikan absen di Mandalika akibat masih menjalani pemulihan cedera yang dialaminya saat mengikuti Pertamina Mandalika Racing Series pada akhir Juli lalu.

Di SS600, Herjun Atna Firdaus menjadi pembalap Indonesia terbaik di posisi keempat klasemen, sedangkan di ASB1000 Andi Farid Izdihar berada di posisi ketiga sementara Mohammad Adenanta Putra menempati posisi ketujuh. Sementara itu, kelas Underbone 150 (UB150) kembali diprediksi menjadi salah satu tontonan paling menarik karena selalu menghadirkan pack racing yang berlangsung hingga tikungan terakhir.

Baca Juga: Astra Honda Siap Lanjutkan Performa Positif di ARRC Mandalika 2026

Selain persaingan para pembalap reguler, kemungkinan kehadiran wildcard Indonesia juga diprediksi menjadi salah satu warna tersendiri ARRC pada putaran keempat di Mandalika. Andhi menilai, para wildcard memiliki peluang besar mengganggu dominasi pembalap reguler karena sudah sangat mengenal karakter lintasan melalui berbagai ajang nasional. 

Meski memiliki keuntungan mengenal lintasan, Andhi menyampaikan bahwa pembalap wildcard tetap menghadapi tantangan teknis yang tidak ringan ketika tampil di ARRC. Tantangan terbesar justru terletak pada proses adaptasi terhadap paket teknis kejuaraan Asia. 

Dengan seluruh faktor tersebut, putaran keempat ARRC 2026 di Sirkuit Internasional Mandalika diperkirakan tidak hanya menjadi ajang perebutan poin kejuaraan, tetapi juga panggung pembuktian bagi pembalap Indonesia di level Asia ketika didukung pengalaman, kesiapan teknis, dan keuntungan tampil di hadapan publik sendiri. 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
arrc 2026 Priandhi Satria Pembalap Indonesia asia road racing championship Sirkuit Internasional Mandalika