LombokPost - Bursa calon Ketua Umum KONI NTB makin hangat menyusul munculnya nama Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal. Meski demikian, Ketua KONI Sumbawa, Abdul Rafiq, SH., M.Si., secara tegas menyatakan tetap menjagokan Mori Hanafi untuk kembali memegang tampuk kepemimpinan KONI NTB ketimbang menyerahkannya kepada figur birokrat atau kepala daerah.
Dukungan resmi yang diberikan KONI Sumbawa kepada Mori Hanafi ini bukan tanpa alasan. Abdul Rafiq menilai rekam jejak, kedalaman pengalaman, serta luasnya jaringan yang dimiliki Mori Hanafi jauh lebih teruji dalam memajukan prestasi olahraga di bawah naungan KONI NTB.
”Kami di KONI Sumbawa secara resmi mendukung Mori Hanafi untuk kembali menjadi Ketua Umum KONI NTB. Kami punya alasan yang objektif. Jaringan beliau luas, komunikasi dengan berbagai pihak sangat baik, dan pengalaman beliau dalam mengelola organisasi olahraga sudah teruji. Kami tidak melupakan sejarah,” tegas Abdul Rafiq.
Salah satu alasan kuat mengapa figur Mori Hanafi dinilai lebih pas menahkodai KONI NTB adalah keberhasilannya mengawal penetapan NTB sebagai salah satu tuan rumah ajang PON 2028. Di mata Abdul Rafiq, kerja keras dan lobi-lobi tingkat tinggi yang dijalankan Mori Hanafi sewaktu menjabat Ketua Umum KONI NTB menjadi kunci utama pembuka jalan keberhasilan sejarah tersebut.
Baca Juga: Bakal Calon Ketua KONI NTB Wajib Punya Bekal Pengalaman dan Modal Dukungan Minimal 30 Persen
”Penunjukan NTB sebagai bagian dari tuan rumah PON 2028 bukan datang begitu saja. Ada proses, komunikasi, lobi dan perjuangan. Mori Hanafi adalah bagian dari sejarah perjuangan itu. Karena itu, kami tidak boleh melupakan sejarah,” kata Abdul Rafiq menyinggung kontribusi besar Mori Hanafi untuk KONI NTB.
Tidak hanya sukses mengamankan status tuan rumah PON 2028, kinerja kepemimpinan Mori Hanafi di KONI NTB juga terbukti dari peningkatan grafik prestasi kontingen daerah. Abdul Rafiq menyoroti raihan medali kontingen NTB pada ajang PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024 lalu yang menunjukkan tren positif. Hal ini membuktikan bahwa manajemen pembinaan atlet yang diterapkan Mori Hanafi di lingkungan KONI NTB terbukti membuah hasil nyata.
”Raihan medali pada PON Aceh-Sumatera Utara menunjukkan adanya peningkatan yang patut kita apresiasi. Ini merupakan hasil dari proses pembinaan, kerja keras atlet, pelatih, pengurus cabang olahraga dan dukungan berbagai pihak. Karena itu, kesinambungan program pembinaan olahraga harus kita jaga dan tingkatkan ke depan,” tuturnya mengapresiasi torehan KONI NTB.
Baca Juga: Dukungan Mengalir Deras! PBSI NTB Mantap Sokong Mori Hanafi Jadi Ketua KONI NTB Lagi
Menurut Abdul Rafiq, melahirkan prestasi olahraga bukanlah proses instan yang bisa dicapai dalam waktu semalam. Diperlukan kesinambungan kepemimpinan di tubuh KONI NTB agar program pembinaan yang sudah dirancang oleh Mori Hanafi tidak terputus di tengah jalan atau harus merangkak kembali dari nol.
”Karena itu, kesinambungan kepemimpinan dan program olahraga menjadi penting. Kita jangan memulai lagi dari nol ketika sudah ada fondasi yang dibangun sebelumnya,” tambahnya.
Menanggapi isu mengenai Gubernur NTB Muhamad Iqbal yang disebut-sebut berniat meramaikan bursa calon Ketua Umum KONI NTB, Abdul Rafiq memandangnya sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Ia menegaskan bahwa siapa saja, termasuk gubernur, memiliki hak untuk maju dalam kontestasi pemilihan Ketua Umum KONI NTB selama memenuhi syarat.
”Kalau Pak Gubernur ingin maju sebagai calon Ketua Umum KONI NTB, itu sah-sah saja. Setiap orang mempunyai hak untuk mencalonkan diri sepanjang memenuhi ketentuan organisasi. Kita hormati proses demokrasi di KONI,” terang Abdul Rafiq.
Baca Juga: Mori Hanafi Mantap Maju Pemilihan Ketua KONI NTB, Siap Kawal Langsung PON 2028
Namun, Abdul Rafiq menyarankan agar urusan pengelolaan organisasi olahraga di KONI NTB sebaiknya dipisahkan dari pusaran kekuasaan pemerintahan. Menurutnya, Gubernur NTB sudah memiliki beban kerja yang sangat besar untuk fokus memimpin roda pemerintahan daerah, sehingga jabatan Ketua Umum KONI NTB lebih ideal dipegang oleh sosok profesional seperti Mori Hanafi.
”Tidak mesti kekuasaan sebagai gubernur kemudian harus memegang langsung jabatan Ketua Umum KONI. Kalau gubernur memiliki kepedulian besar terhadap olahraga, justru dukungan dan political will dari pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Gubernur cukup back up KONI NTB. Itu sudah sangat luar biasa. Tidak harus gubernur sendiri yang menjadi Ketua Umum KONI,” pungkas Abdul Rafiq.
Editor : Pujo NugrohoSumber : Liputan