Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dua Warga KLU Tinggal di Gubuk Reot, Butuh Perhatian Pemerintah

Wahyu Prihadi • Jumat, 8 Oktober 2021 | 11:40 WIB
POTRET KEMISKINAN NTB: Seorang nenek bergurau dengan cucunya di pintu rumahnya yang terbuat dari asbes dan anyaman bambu di Kelurahan Bintaro, Kota Mataram, Selasa (16/2). (Foto: Ivan/Lombok Post)
POTRET KEMISKINAN NTB: Seorang nenek bergurau dengan cucunya di pintu rumahnya yang terbuat dari asbes dan anyaman bambu di Kelurahan Bintaro, Kota Mataram, Selasa (16/2). (Foto: Ivan/Lombok Post)
TANJUNG- Masih banyak warga Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang hidup sangat tidak laik. Seperti yang menimpa dua warga Dusun Tebanyak Desa Tegal Maja Kecamatan Tanjung, Inaq Surnip, 38 tahun dan Inaq Sukarnip, 70 tahun. Keduanya tinggal di gubuk reot.

Sudah tiga tahun selepas gempa 2018, mereka melewati hidup dengan segala keterbatasan. Kedua perempuan ini tak lagi memiliki suami, anak maupun keluarga lain yang menemani. Gubuk Inaq Sukarnip berdinding lusuh. Setengahnya hanya ditutupi selembar terpal usang. Gubuk Inaq Surnip pun tak kalah memprihatinkan. Bangunannya juga nyaris roboh karena tiang kayu penyanggah yang mulai lapuk.

Keduanya juga tidak memiliki data kependudukan. Alhasil, mereka tidak tercatat sebagai warga Desa Tegal Maja. Sehingga tidak pernah tersentuh bantuan pemerintah.

Kondisi Inaq Surnip dan Inaq Sukarnip baru terungkap setelah Astadi, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mendapat informasi dari warga lainnya. Astadi melaporkan temuan tersebut ke Dinas Sosial.

”Pak kadis dan ibu kabid rehsos sudah merespons dengan turun langsung mengecek ke lokasi,” kata dia, (7/10).

Inaq Surnip dan Inaq Sukarnip mengaku mereka menumpang tinggal di lahan milik warga. Bahkan gubuk tersebut merupakan bantuan gotong royong warga sekitar. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka bekerja mengais daun kelapa kering yang dijadikan sebagai sapu lidi. Sapu lidi tersebut ditukarkan dengan makanan pada warga.

”Kadang tidak makan seharian,” cerita mereka.

Dari kunjungan Dinsos bersama pendamping PKH dan PSM, keduanya telah menerima bantuan beras masing-masing lima kilogram, sembako, dan selimut. Mereka juga akan diusulkan mendapat Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Plt Kepala Dinas Sosial P3A Lombok Utara Faturrahman mengatakan, pihaknya akan segera melakukan penanganan pada kedua warga tersebut. Pihaknya akan segera mengupayakan pembuatan hunian yang lebih layak untuk keduanya.

”Nantinya dua warga ini kami tempatkan dalam satu rumah  berukuran 3x6 meter dengan dua kamar serta teras,” janji dia.

Pembangunan hunian layak tersebut akan diprioritaskan melalui Belanja Tidak Terduga (BTT). Anggaran tersebut bisa digunakan ketika dalam kondisi darurat seperti untuk hunian Inaq Sukarnip dan Inaq Surnip tersebut.

Mantan sekretaris Dinas PUPR Lombok Utara itu mengatakan, untuk pembangunan akan dilakukan Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan sumber daya lainnya, termasuk Pendamping Sosial Masyarakat (PSM).

”Minimal mereka ada tempat tinggal lengkap dengan MCK,” kata dia.

Agar bisa mendapatkan bedah rumah, kedua warga akan dibantu pembuatan Adminduknya. Saat ini pihaknya tengah memproses untuk e-KTP dan KK keduanya.

”Kita lengkapi data berupa KK dan KTP-nya, setelah itu kita buatkan surat keterangan tidak mampu dan itu yang kita usulkan ke BPKAD,” ujar Faturrahman.

Ia mengakui jika masih banyak rumah tidak laik seperti milik Inaq Sukarnip dan Inaq Surnip di KLU. Namun saat ini pihaknya masih memprioritaskan bantuan hunian laik bagi lansia terlantar alias tidak memiliki keluarga.

”Kami berharap  jika ada masyarakat menemukan rumah seperti ini segera melaporkan ke dinsos, karena kami memang sangat membutuhkan informasi di lapangan,” pungkas dia. (fer/r9) Editor : Wahyu Prihadi
#gubuk reot #potret kemiskinan