Perempuan Pesisir KLU Dibantu Budidaya Vaname

Wahyu Prihadi • Dipublikasikan Sabtu, 30 Oktober 2021 | 12:45 WIB
PANTAU KONDISI: Kepala DKP3 KLU Tresnahadi (dua dari kanan) melakukan pemantauan bantuan kolam budidaya udang vaname, di Pantai Lempenge, (29/10).
PANTAU KONDISI: Kepala DKP3 KLU Tresnahadi (dua dari kanan) melakukan pemantauan bantuan kolam budidaya udang vaname, di Pantai Lempenge, (29/10).
TANJUNG-Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) KLU tengah menggalakkan pembentukan kelompok budidaya udang vaname kolam bundar. Kelompok yang menyasar perempuan pesisir tersebut dibentuk untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

Kepala DKP3 KLU Tresnahadi menuturkan, pembentukan kelompok ini dimulai sejak dua tahun lalu. Jumlah anggotanya 40 orang perempuan. Saat ini tercatat ada 10 kelompok yang tersebar di Kecamatan Gangga, Kayangan, dan Bayan. Mereka bisa menghasilkan panen bersih hingga Rp 85 juta.

”Kelompok perempuan pesisir ini merupakan ibu rumah tangga dengan kategori miskin. Kita intervensi minimal kesejahteraan mereka tetap terjaga,” ujar dia,  (29/10).

Mantan sekdis Dukcapil KLU ini mengatakan, lebih dari 50 persen perempuan sesuai Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) berada di bawah garis kemiskinan. Sehingga perlu  dilakukan terobosan untuk menanggulanginya. Program budidaya kolam bundar ini dinilai Lembaga Administrasi Negara (LAN) paling inovatif di antara 70 program usulan KLU lainnya.

”Kelompok kolam bundar vaname ini setiap tahunnya terus berkembang. Tahun ini hanya ada tiga kelompok tambahan yang disetujui karena kemampuan anggaran,” sambung dia.

Tresnahadi membeberkan, pihaknya memberikan bantuan dalam bentuk pakan dan sarana. Total kisaran anggarannya mencapai Rp 500 juta per kelompok. Dalam satu kelompok terdapat 22 unit kolam bundar. Sedangkan untuk benur atau benih disiapkan secara swadaya oleh kelompok.

”Kebutuhan benur para kelompok dibantu pihak ketiga, dengan mekanisme bayar pasca panen,” jelasnya.

Setiap kelompok dibantu pakan rata-rata satu ton hingga panen. Panennya sendiri dilakukan tiga bulan sejak benur dilepas dalam kolam.

Untuk pemasaran produksi vaname ini, telah disediakan pihak ketiga. Sehingga kelompok tidak kesulitan sama sekali.

”Saya pesan ke mereka untuk pandai mengelola karena tidak selamanya pemerintah memberi bantuan. Tapi rata-rata sekarang sudah mandiri secara manajemen pengelolaan keuangan,” jelas mantan camat Kayangan itu.

Ia menambahkan, secara teknis tingkat mortalitas hewan invertebrata ini sangat kecil. Yakni hanya 10 persen dengan hitungan dalam satu kolam tebaran benurnya 5.000 ekor. Maka benur gagal hidup hanya sekitar 500.

”Tahun depan kita akan anggarkan lagi. Penambahan yang tahun ini akan diresmikan bupati bulan depan,” pungkasnya. (fer/r9)

  Editor : Wahyu Prihadi
udang vaname peremuan pesisir