TANJUNG-Penanganan sampah di Gili Trawangan, Meno, dan Air (Tramena) masih mengalami sejumlah permasalahan. Terutama mengenai proses pengangkutan yang masih dikeluhkan warga lantaran sampah menumpuk dan kerap tak langsung diangkut.
Kepala Unit Pengelolaan Teknis (UPT) Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Af Fizyee Hidayat mengatakan, jumlah rata-rata sampah di Gili Tramena mencapai 600 ton setiap bulannya. Jumlah ini biasanya akan meningkat ketika high season. ”Pihak kami sudah turun membersihkan tumpukan sampah yang dikeluhkan di Gili Air beberapa hari lalu itu,” ujarnya, Jumat (20/1).
Dikatakannya, jumlah sampah di Gili Trawangan mencapai 450 ton per bulan. Sedangkan untuk Gili Air, sampahnya sebanyak 112 ton per bulannya. ”Kalau untuk Meno sedikit sampahnya,” sambungnya.
Dijelaskan, tarif retribusi sampah memang mengalami kenaikan. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 61 tahun 2021 tentang tarif layanan persampahan dan air limbah. ”Ini berlaku untuk semua layanan, mulai dari rumah tangga hingga hotel dan lainnya,” bebernya.
Pemberlakuan tarif retribusi sampah di Gili Tramena berbeda dengan di luar tiga pulau tersebut. Di luar Gili Tramena, penarikan retribusi sampah diberlakukan dengan perhitungan per sekali angkut. Sedangkan untuk Gili Tramena, penarikan retribusinya dilaksanakan per bulan. ”Penarikan retribusi persampahan di Gili Tramena untuk hunian rumah tangga, pertokoan, kos- kosan dihitung per kamar yang terisi sebesar Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu per bulannya,” jelasnya.
Sementara untuk retribusi sampah dari tempat usaha, seperti hotel bintang satu hingga lima. Besarannya mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 2,5 juta per bulan. Untuk usaha tempat makan, restoran, spa, klinik swasta, Puskesmas dan Pustu, sekolah dan PKL retribusi sampahnya bervariasi. ”Mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 250 ribu untuk restoran,” sambungnya.
Potensi retribusi di Gili Tramena bisa mencapai Rp 300 juta. Namun mengingat KSM yang mengelola, jumlah yang diterima pemerintah daerah tidak sebanyak itu. ”Di Gili Air itu setorannya Rp 8 juta, dan Meno Rp 3 juta (per bulan,Red),” tandasnya.
Sebelumnya Kepala DLH KLU Rusdianto mengatakan, soal pengangkutan sampah pihaknya terkendala sarana. Sarana pengangkutan berupa kapal tongkang yang dimiliki DLH saat ini hanya satu unit dengan kapasitas enam kubik. ”Kita saat ini kurang armada angkut,” bebernya.
Pihaknya telah mengusulkan penambahan satu armada tongkang untuk memaksimalkan pengangkutan sampah. ”Juga KSM kami harapkan dapat maksimal untuk melakukan pemilihan,” pungkasnya. (fer/r9)
Editor : Galih Mps