Sempat pesimis di tengah pandemi, nyatanya para perempuan Gili Tramena ini mampu bangkit mengatasi dampak buruk perekonomian saat itu.
FERIAL AYU, Lombok Utara
Awal 2020 lalu, menjadi tahun terberat bagi sejumlah ibu rumah tangga (IRT) asal Gili Air, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang. Bagaimana tidak, pariwisata di Gili Trawangan, Meno dan Air ditutup total saat itu.
Mereka yang sehari-harinya berjualan ikan keliling ini harus kehilangan sumber pendapatan. ”Semuanya serba susah, penghasilan juga susah,” ujar Sustikayanti.
Setahun setelahnya, tepatnya 2021, para IRT ini bak mendapat angin segar. Sebuah program pemberdayaan masyarakat pesisir dari Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Kementerian PPN/Bappenas masuk ke Tramena.
ICCTF KPPN/Bappenas ini menggandeng para IRT ini untuk pengolahan hasil perikanan. Akhirnya dibentuklah kelompok pengolahan dan pemasaran hasil perikanan (Poklahsar) bernama Lanter Gili. ”Berdirinya tahun 2021. Anggotanya 10 orang, ibu-ibu semua,” sambung perempuan yang juga Ketua Poklahsar Lanter Gili ini.
Kelompok Lanter Gili ini kemudian dilatih untuk mengolah ikan menjadi produk makanan yang memiliki nilai lebih tinggi. Tak hanya itu, mereka juga diberikan bantuan sarana penunjang produksi.
Poklahsar Lanter Gili ini memutuskan untuk memulai usaha dengan membuat produk bakso ikan. Namun seiring berjalannya waktu, produk terus berkembang. Di antaranya bakso goreng (basreng) ikan, nugget, hingga sosis ikan.
Pembuatan produk-produk olahan ikan dilakukan satu pekan sekali. Sekali buat, mereka menghasilkan 10 kilogram adonan bakso ikan. Pilihan ikan yang digunakan mereka pun beragam. Mulai dari ikan tenggiri hingga tuna. ”Kalau 10 kilogram ini habis terjual, baru kita buat lagi,” katanya.
Selama menjalankan usaha ini, kelompok Lanter Gili ini tidak begitu kesulitan bahan baku. Sebab bahan baku utamanya bisa didapatkan dengan mudah dari nelayan di pulau tersebut. ”Marketnya sudah ada, tinggal kita beli saja,” bebernya.
Namun ketika kondisi cuaca sedang buruk, banyak nelayan yang tidak melaut. Untuk menyiasati kebutuhan bahan baku, mereka memesan ikan dari luar pulau. Hal ini dilakukan agar produksi olahan hasil laut ini tidak terhenti. ”Biasanya kita beli ikan Rp 20-25 ribu per kilogram, kalau cuaca buruk bisa Rp 60 ribu per kilogram, tergantung jenis ikannya,” terang perempuan berhijab ini.
Modal yang dikeluarkan Rp 2 juta. Sistemnya berupa urunan dari masing-masing anggota kelompok. Sedangkan untuk keuntungannya, mulai dari Rp 1 juta atau lebih dalam sekali produksi per minggunya. ”Sistem bagi keuntungannya itu kita sisihkan dulu modalnya, baru dibagi masing-masing anggota kelompok,” jelasnya.
Mengenai pemasaran produk, masih mengandalkan media sosial. Selain itu, mereka akan berjualan keliling ke rumah-rumah warga yang ada di Gili Air. ”Kalau ada pesanan dari gili lainnya kita bawakan dia,” ujarnya. (bersambung/r9)
Editor : Galih Mps