Kegiatan menarik saat perayaan HUT ke 15 Lombok Utara lainnya adalah lomba presean. Hiburan rakyat ini berlangsung selama lima hari berturut-turut.
FERIAL AYU, Lombok Utara
Sore hari dan sedikit mendung, di Lapangan Tioq Tata Tunaq. Ratusan warga dari berbagai penjuru Kabupaten Lombok Utara (KLU) berkumpul. Mereka terlihat antusias berdiri memandangi dua pria dewasa yang tengah bersiap-siap.
Kedua pria itu sama-sama memasang kuda-kuda. Tangan kanannya mengangkat tongkat kecil dari rotan. Sedangkan tangan kiri, memegang sebuah perisai dari bahan yang sama yang disebut ende.
Keduanya saling menatap tajam satu sama lainnya. Dalam kesenian ini, mereka biasanya disebut pepadu. Di antara keduanya, ada seorang lagi yang bersiap memulai pertarungan.
Namanya pekembar. Ada pekembar tengaq (tengah) dan pekembar sedi (pinggir). Pekembar tengaq yang mengawasi jalannya permainan atau menjadi wasit, sesuai dengan awik-awik atau peraturan yang telah ditetapkan.
Dalam menjalankan perannya, pekembar tengaq dibantu pekembar sedi. Pekembar sedi bertugas memilih calon pepadu yang seimbang.
Tak hanya itu, pekembar sedi juga menjadi juri pemberi nilai pada setiap pukulan pepadu, serta menetapkan pemenangnya. Selain itu ada juga yang bertugas sebagai tukang adu yang disebut pengadoq.
Bugh! Bugh! pukulan demi pukulan kedua pepadu menggema. Diiringi suara riuh teriakan penonton yang saling bersahutan. Semarak kegembiraan ini merupakan bagian dari perayaan HUT ke 15 KLU.
Kegiatan peresean di lapangan Tioq Tata Tunaq ini digelar dalam dua kategori. Kategori remaja dan kategori dewasa. Jumlah pesertanya tidak dibatasi. Banyak remaja maupun pria dewasa yang mengikuti lomba ini. ”Melihat antusiasme warga pada tahun lalu, jadi tahun ini kami adakan lagi, dimulai sejak Sabtu (22/7)” ujar Ketua Panitia HUT ke 15 Lombok Utara H Rubain.
Arena bertarung para pepadu dalam presean, sebenarnya tidak membutuhkan tempat yang luas. Sebab pertandingan hanya dilakukan oleh dua peserta saja di dalamnya. Namun karena disaksikan banyak orang, maka lokasi umumnya diadakan di tanah lapang atau lapangan sepak bola.
Salah satu aturan dalam pertandingan peresean, tidak boleh memukul bagian bawah. Para pepadu juga tidak boleh memakai baju dan wajib memakai sapuq (ikat kepala).
Pada Ikat kepala ini, sebagian besar orang melepaskan mantra supaya tidak mudah bocor kepalanya jika terkena pukulan. Serta sebagai penangkal rasa sakit. Dalam permainan presean biasanya memakai lima ronde. Namun itu juga tergantung kesepakatan pengembar dan menyesuaikan antara pepadu.
Kegiatan lomba presean ini dilakukan Pemda KLU bekerja sama dengan Ikatan Pepadu Lombok Utara Bersatu (IPLUB). Pemilihan lomba ini, selain digandrungi masyarakat, juga bagian dari melestarikan kesenian daerah. ”Peresean ini kita gelar selama lima hari berturut-turut, sejak pukul 16.30 Wita sampai 17.30 Wita,” jelasnya.
Menurutnya, seiring perkembangan zaman yang semakin maju, dikhawatirkan akan menggerus kebudayaan dan kesenian lokal. Sebab itu, melalui hiburan ini masyarakat khususnya generasi muda, tertarik mengembangkan dan menjaga kearifan lokal milik daerahnya. ”Ini salah satu cara kita melestarikan kearifan lokal yang telah diwariskan,” tandasnya. (*/r9)
Editor : Galih Mps