Gebyar tari tradisional Suku Sasak Dayan Gunung menjadi spesial lantaran menampilkan warisan budaya tak benda Indonesia milik kabupaten termuda di NTB ini.
FERIAL AYU, Lombok Utara
Riuh suara tepuk tangan menggema di Lapangan Tioq Tata Tunaq, ketika alunan musik Tari Sireh mulai terdengar. Terlihat empat pemudi mulai melangkah naik ke atas panggung gebyar, satu per satu.
Mereka kemudian membagi diri menjadi dua barisan. Dua orang di bagian depan, dan dua orang di belakang. Sambil melompat kecil, dengan kaki kanan di depan sambil melompat.
Sedangkan tangan kanan penari digerakkan ke atas secara bergantian dengan tangan kiri. Gerakan ini dilakukan penari sambil menggoyang pinggul serta tangan kiri mengibaskan selendang ke atas. Sampai tiga kali hitungan langkah lompatan.
Tarian ini dinamakan Tari Sireh atau sirih dalam Bahasa Indonesia. Berasal dari Dusun Buani, Desa Bentek Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Warga dusun ini memiliki kebiasaan menyuguhkan pebuan atau peminang pada setiap tamu yang datang.
Baik itu tamu perempuan maupun laki-laki, disuguhkan pebuan berisi daun sirih, buah pinang, dan lainnya. Kebiasaan ini yang kemudian menginspirasi terciptanya tarian tersebut, atau yang juga dikenal dengan Tari Sireh Buani.
Tarian ini biasanya disuguhkan untuk memberikan penghormatan pada tamu yang hadir di semua kegiatan di Dusun Buani. Tidak hanya tari tradisi, masyarakat Desa Bentek juga menggunakan tari itu sebagai tari pengisi acara ritual, tari pergaulan, maupun hiburan. ”Sebelumnya, tarian ini sempat vakum karena tukang sulingnya meninggal dunia. Tapi Alhamdulillah tahun ini mereka hadir kembali,” ujar Sandi Justitia Putra, ketua Rumah Budaya Kembang Rampe Summira Lombok Utara ini.
Selain sebagai hiburan, Tari Sireh juga memiliki fungsi pendidikan. Yakni menanamkan nilai moral melalui syair yang dilantunkan saat pementasan.
Eksistensi tari harus dilestarikan, di tengah perkembangan zaman yang semakin maju. Untuk itu, dukungan orang tua, tokoh masyarakat, tokoh adat budaya, hingga pemerintah sangat dibutuhkan. Sehingga akan semakin banyak generasi muda yang terlibat melestarikan warisan budaya ini.
”Penting kita kenalkan sejak dini pada generasi penerus di KLU ini, sehingga warisan budaya ini tidak tergerus modernisasi,” jelas Sandi.
Dalam melestarikan sekaligus mempromosikan tarian tradisional Lombok Utara, Rumah Budaya Kembang Rampe Summira bekerja sama dengan banyak sanggar tari di Lombok Utara. Seperti Sanggar Sukma Rahayu, dan beberapa sanggar seni lain. ”Seni daerah tidak boleh mati, ini harus terus dilestarikan,” kata pria yang juga tokoh pemuda Desa Bentek itu.
Selain tari Sireh Buani, ada banyak tari Lombok Utara yang perlu dilestarikan. Bahkan bila perlu ikut menjadi warisan budaya tak benda Indonesia. Salah satunya seperti tari elok balang dari desa adat Gumantar. Tarian ini hanya di pertunjukkan dalam kegiatan adat di sana. ”Gebyar ini menjadi salah satu wadah untuk melestarikan itu,” pungkasnya. (*/r9)
Editor : Galih Mps