Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Ritual Empas Menanga di Desa Akar-Akar Bayan,  Diyakini Tolak Bala dan Bakal Datangkan Kesejahteraan

nur cahaya • Jumat, 13 Desember 2024 | 23:09 WIB

 

LESTARIKAN BUDAYA: Bupati Djohan melaksanakan ritual Empas Menanga di Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan, Rabu (11/12)
LESTARIKAN BUDAYA: Bupati Djohan melaksanakan ritual Empas Menanga di Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan, Rabu (11/12)
 

Ritual adat Empas Menanga kembali terlaksana di Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan tahun ini. Bupati Djohan Sjamsu hadir secara langsung dalam kegiatan budaya tahunan itu.

---------------

Bupati Djohan Sjamsu membedah timbunan pasir yang menutup muara sungai tersebut.

Di bawah tumpukan pasir itu sudah ada sebuah benda yang ditutupi kain putih. Djohan kemudian mengangkat kain itu.

Aktivitas membedah timbunan pasir itu merupakan bagian dari pelaksanaan ritual Empas Menanga di Menanga atau Muara Mual. Yaitu sebuah muara yang ada di Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan. Ritual dilaksanakan, Rabu (11/12) lalu.

Ritual Empas Menanga Mual artinya membedah muara tempat mencari ikan dan udang.

Ritual itu merupakan tradisi adat yang dilakukan warga setempat sejak zaman nenek moyang dan telah menjadi budaya masyarakat Desa Akar-akar secara turun temurun.

Empas Menanga berasal dari dua kata, yakni Empas yang berarti kuras dan Menanga berarti Muara.

Makna Ritual Adat Empas Menanga adalah dengan dikurasnya muara, berarti membuang hal-hal yang tidak baik.

”Sehingga dengan ritual itu diyakini akan terhindar dari musibah dan mara bahaya. Serta bertujuan agar hasil panen melimpah ruah,” kata Kades Akar-Akar Budi Priyo Santoso.

Dengan keyakinan akan mampu terhindar dari musibah serta mendatangkan kesejahteraan itu, maka masyarakat tidak mau melewatkan ritual Empas Menanga.

”Menjadi acara yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat, tidak hanya yang berada di wilayah Akar-Akar saja tetapi  Kecamatan Bayan secara keseluruhan,” jelasnya.

Momen tersebut juga dimanfaatkan masyarakat untuk menangkap ikan secara beramai-ramai.

Dengan ritual ini, juga mampu mempererat kekompakan.

”Tidak hanya tentang mengempas menenga, tetapi bagaimana kita berkumpul bersilaturahmi,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Djohan mengatakan ritual Empas Menanga Mual ini perlu terus dijaga dan dilestarikan. Selain itu, bisa dijadikan sarana silaturahmi, mempererat hubungan antar sesama.

Djohan menegaskan pemerintah daerah sangat mengapresiasi kegiatan pelestarian budaya ini. Pemerintah berkomitmen untuk terus mensuport.

”Tentunya kita bersukur dengan adanya kegiatan seperti ini banyak sekali manfaat yang diperoleh,” tandasnya. (Habibul Adnan/r12)

Editor : Marthadi
#ritual #desa #masyarakat #bayan #pemerintah #budaya #silaturahmi #hubungan #nenek moyang