Arianto Adipurwanto telah mengharumkan Lombok Utara melalui goresan tintanya.
Karya terbarunya, kumpulan cerpen berjudul "Iblis Tanah Suci" mampu tembus nasional.
Buku berjudul Iblis Tanah Suci adalah sebuah kumpulan beberapa cerpen. Di dalamnya ada sebuah cerpen berjudul Harga Sepotong Kaki. Penulis asal Lombok Utara Arianto Adipurwanto penulis karya tersebut.
Arianto mengaku tema cerpen Harga Sepotong Kaki ini menjadi titik awal eksplorasi tema-tema yang lebih luas. Dari sini muncul isu politik, pembangunan desa, hingga perubahan sosial akibat masuknya televisi ke kampung.
Kumpulan cerpen Iblis Tanah Suci meriah prestasi bergengsi, beberapa waktu lalu. Yaitu berhasil masuk dalam daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2025 untuk kategori kumpulan cerpen. ”Masuk 10 besar KSK,” katanya.
Karya pria asal Desa Karang Anyar, Desa Gondang, Kecamatan Gangga ini tidak hanya masuk longlist KSK. Tetapi juga terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Rasa 2025. Yaitu sebuah penghargaan untuk penulis pemula “Rasa” yang diselenggarakan Ayu Utami bersama komunitas Utan Kayu dan Ghanta.
”Cerpen ini keluar dari kebiasaan saya yang biasanya menulis soal tradisi atau cerita mistik lokal. Saya mencoba menyentuh isu-isu yang lebih kontemporer,” katanya.
Ini bukan kali pertama karya sastra Arianto meraih penghargaan nasional. Pada tahun 2019 lalu karyanya berjudul Bugiali masuk lima besar KSK. Arianto mengaku sangat bersyukur bisa dapat prestasi dalam bidang sastra.
”Masuk 10 besar di KSK tidaklah mudah. Harus melewati proses kurasi yang ketat dan bersaing dengan karya-karya dari penulis hebat di seluruh Indonesia,” ujar pria 32 tahun ini.
Dia menceritakan bahwa sebagian besar karyanya terinspirasi dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat di kampung halamannya, Dusun Lelenggo, Desa Sama Guna, Kecamatan Tanjung. Ia menyebut kampungnya itu sebagai miniatur dunia, yang banyak menginspirasi tulisannya.
”Ide cerita saya banyak lahir dari peristiwa sehari-hari di Lelenggo. Apa yang terjadi di sana, bahkan yang datang dari luar, saya tuangkan dalam cerita pendek,” jelasnya.
Perjalanan Arianto di dunia tulis-menulis dimulai sejak duduk di bangku SMA.
Ia banyak belajar dari Lintang Sugianto, penulis Matahari di Atas Gili.
Ketertarikannya dalam dunia penulisan semakin kuat ketika cerpen pertamanya dimuat dalam antologi pelajar se-NTB.
Saat kuliah di Universitas Mataram, ia memilih jurusan Pendidikan Guru Bahasa Indonesia dan aktif di komunitas sastra Akarpohon yang digagas sastrawan Kiki Sulistyo.
”Titik balik saya adalah ketika bergabung di Akarpohon. Di sana saya sadar, kampung saya menyimpan banyak hal menarik yang layak ditulis,” tandasnya. (HABIBUL ADNAN/r8)
Editor : Pujo Nugroho