LombokPost - Minat baca di Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih sangat rendah.
Dari data Dinas Perpustakaan dan Arsip KLU, anak yang suka membaca hanya 3 persen atau hanya tiga yang suka membaca dari 100 anak.
Rendahnya minat baca ini menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dikbudpora) KLU.
Sebagai respon terhadap fakta tersebut, Dinas Dikbudpora KLU telah menyiapkan program khusus.
Program tersebut adalah melakukan revitalisasi pengelolaan perpustakaan sekolah. Langkah revitalisasi ini dimulai dari sekolah dasar.
Kepala Dikbudpora KLU H. Adenan mengatakan ini menjadi langkah penting yang harus segera dilakukan.
Adenan mengaku ada 162 SD di Lombok Utara. Dari jumlah itu, tercatat 30 sekolah yang belum optimal dalam pengelolaan perpustakaan.
Baik dari sisi fasilitas maupun sumber daya pengelolanya.
”Harus diakui, KLU masih jauh tertinggal dibandingkan kabupaten/kota lain di NTB dalam hal literasi,” katanya.
Dalam upaya revitalisasi ini, pemerintah akan melibatkan berbagai pihak.
Seperti Balai Bahasa NTB, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP), serta Balai Guru Penggerak (BGP).
Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama pengelola perpustakaan sekolah.
Menurut Adenan, pengelola perpustakaan sekolah memiliki peran strategis dalam penguatan budaya baca siswa.
Dengan kapasitas yang mumpuni, dia menilai akan berdampak terhadap peningkatan literasi.
Adenan menambahkan bahwa pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri dalam membangun ekosistem literasi yang kuat.
Akan tetapi membutuhkan sinergi antara sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat.
”Meningkatkan literasi adalah tanggung jawab bersama. Kami akan terus mendorong agar setiap sekolah memiliki perpustakaan yang aktif dan dikelola oleh orang yang kompeten,” tegasnya.
Pemerhati literasi sekaligus Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara Heny Agus Purwanta menambahkan budaya membaca harus dimulai sejak dini.
Sehingga sangat penting menanamkan kebiasaan membaca kepada anak-anak sejak SD.
Tetapi yang perlu dipahami, tidak cukup jika anak-anak hanya disuruh membaca tanpa ada tindakan konkret dari orang tua maupun para gurunya di sekolah.
Guru di sekolah maupun orang tua juga harus ikut membaca buku.”Karena anak-anak itu akan melakukan apa yang dilihatnya,” ujarnya.
Tahun 2045 nanti dicanangkan tercapainya Indonesia Emas. Yaitu menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur.
Tetapi Heny menilai, Indonesia Emas akan hanya menjadi program semata tanpa dimulai menyiapkan SDM yang unggul melalui gemar membaca.
”Itu yang memungkinkan bonus demografi terwujud. Maka kita ingin anak-anak Lombok Utara tidak hanya kenal buku saat momen tertentu saja, tapi membaca itu harus menjadi kebiasaan. Dan ini harus ditumbuhkan dari sekarang,” tutup Heny.
Editor : Pujo Nugroho