Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Gili Festival 2025 Masuk KEN, Momen Perkuat Pelestarian Budaya

Habibul Adnan • Kamis, 21 Agustus 2025 | 08:33 WIB
ANTUSIAS: Wabup KLU bersama pejabat dari Kemenpar, sejumlah tamu, wisatawan dan warga ikut Mandi Safar di Gili Air, Rabu (20/8)
ANTUSIAS: Wabup KLU bersama pejabat dari Kemenpar, sejumlah tamu, wisatawan dan warga ikut Mandi Safar di Gili Air, Rabu (20/8)

LombokPost - Tradisi Mandi Safar atau yang juga dikenal dengan sebutan Rebo Bontong, menjadi puncak perayaan Gili Festival 2025 yang digelar di Gili Air pada Rabu (20/8).

Tradisi yang dilaksanakan setiap Rabu terakhir di bulan Safar penanggalan Hijriah ini diyakini sebagai ritual menolak bala.

Festival ini menjadi istimewa karena tahun 2025, Gili Festival resmi masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) yang telah ditetapkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

Pengakuan nasional ini menjadi momentum penting bagi Lombok Utara untuk mengangkat kekayaan budaya lokal ke panggung wisata nusantara dan internasional.

Wakil Bupati KLU Kusmalahadi Syamsuri bersyukur dan bangga atas keberhasilan ini.

Menurutnya, keikutsertaan Gili Festival dalam KEN membuka jalan bagi Lombok Utara untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

“Satu hal yang patut membuat bangga, Gili Festival sudah masuk KEN. Ke depan kita ikhtiarkan agar tamu nasional maupun internasional bisa kita hadirkan," katanya.

Yang perlu dipahami, Gili Festival tidak hanya akan diselenggarakan di Gili Air. Tetapi juga akan digilir tiga gili.

"Tahun depan diagendakan digelar di Gili Trawangan,” ujar Kusmalahadi.

Ke depan, pemerintah daerah untuk terus mengusulkan event budaya lain agar masuk dalam kalender nasional.

Selain Gili Festival, Pemda KLU sedang berikhtiar memasukkan Mulut (Maulid) Adat Bayan. "Mudahan bisa lolos kurasi Kementerian Pariwisata,” tambahnya.

Baca Juga: Kader Posyandu di Lombok Utara Diharapkan Aktif Turunkan Stunting

Dia menambahkan, Dengan masuknya Gili Festival ke dalam KEN, Pemda Lombok Utara menargetkan agar event ini terus berkembang menjadi festival kelas dunia.

Tahun depan, festival direncanakan bergeser ke Gili Trawangan dengan konsep yang lebih besar, melibatkan lebih banyak seniman, UMKM, dan tentu saja menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.

“Dengan semangat kolaborasi dan dukungan pemerintah pusat, Gili Festival akan terus kita perkuat sebagai event unggulan Lombok Utara. Harapan kita, festival ini bisa menjadi ikon wisata budaya yang mendunia,” pungkas Kusmalahadi.

Pejabat Kementerian Pariwisata Antonio Prakoso memberikan apresiasi kepada Pemda KLU, masyarakat, dan seluruh pemangku kebijakan yang telah berkolaborasi dalam menyukseskan festival ini.

“Selamat kepada Pemda Lombok Utara atas terpilihnya Gili Festival sebagai salah satu dari 110 KEN 2025. Ini menunjukkan pengakuan nasional atas kekayaan event budaya di Lombok Utara,” ungkap Antonio.

Dia menyebut, selain Gili Festival, terdapat beberapa event budaya NTB yang juga lolos kurasi KEN.

Yaitu Rimpu Mantika dari Bima, Perang Topat dari Lombok Barat, serta Alunan Budaya Desa Pringgasela dari Lombok Timur.

Menurutnya, hal ini menegaskan bahwa NTB memiliki potensi budaya yang kuat sebagai daya tarik wisata.

Untuk Gili Festival, tradisi ini semakin memperkuat branding Lombok Utara sebagai destinasi wisata budaya dan religi yang unik.

Ketua Badan Promosi Pariwisata (BPPD) KLU Harun Zainudin menjelaskan, ada beberapa rangkaian kegiatan Gili Festival 2025.

Yaitu pada tanggal 18 Agustus lalu ada beberapa penampilan seni dan budaya.

Ada berbagai penampilan seni, mulai dari musik tradisional, tari daerah, hingga atraksi budaya yang melibatkan seniman lokal dan komunitas masyarakat.

Untuk acara budaya ada peresean yang cukup menarik bagi wisatawan.

Sebelum Mandi Safar, ada prosesi Larung Sesaji. Sebuah tradisi sakral berupa melepas makanan tradisional dan hasil pertanian ke laut.

"Sebagai simbol rasa syukur sekaligus menolak mara bahaya," kata Harun Zainudin.

Anggota DPRD KLU, H.M. Taufik, menekankan pentingnya menjadikan UMKM dan budaya sebagai daya tarik utama.

“Harapan saya ke depan Gili Festival bisa lebih besar. UMKM dan budaya harus menjadi pusat perhatian, karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Taufik juga mengapresiasi totalitas masyarakat, khususnya remaja desa dan panitia lokal berperan aktif dalam dalam mensukseskan Gili Festival. “Penampilan yang ditunjukkan luar biasa,” tutupnya.

Editor : Jelo Sangaji
#Gili Meno #Gili Trawangan #Gili Air #Gili festival 2025 #mandi safar di Lombok Utara