Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bhayangkari Lombok Utara Dorong Rebo Bontong Jadi Modal Sosial Pariwisata Berkelanjutan di Gili

Marthadi • Kamis, 21 Agustus 2025 | 14:24 WIB

Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara Ny. Heny Agus Purwanta saat menghadiri Gili Festival 2025 di Gili Air.
Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara Ny. Heny Agus Purwanta saat menghadiri Gili Festival 2025 di Gili Air.
LombokPost - Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara Ny. Heny Agus Purwanta menegaskan pentingnya menjaga kelestarian tradisi Rebo Bontong atau ritual Mandi Safar sebagai identitas budaya Gili sekaligus modal sosial dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Lombok Utara.

Hal itu ia sampaikan saat menghadiri Gili Festival 2025 di Gili Air, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Rabu (20/8).

Festival yang menampilkan ritual adat Rebo Bontong ini masuk dalam jajaran 110 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2025 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.

“Rebo Bontong adalah cara kita sebagai penghuni memaknai alam sebagai bagian dari pensucian diri. Kita mandi di laut untuk kembali suci, maka laut harus dijaga kesuciannya, tidak boleh rusak. Mensucikan diri berarti menggunakan air yang suci,” ujar Ny. Heny.

Ia menekankan, rangkaian tradisi mulai dari doa bersama, begibung (makan bersama), melarung miniatur kapal, hingga mandi laut bukan sekadar seremonial, melainkan simbol solidaritas, empati, dan kebersamaan.

Gotong royong warga dalam menyiapkan hidangan, interaksi hangat dengan wisatawan, hingga kebersamaan di laut mencerminkan kekuatan budaya yang bernilai tinggi.

Lebih jauh, Ny. Heny menegaskan Bhayangkari tidak hanya berperan mendampingi Polri, tetapi juga menjadi jalur komunikasi sosial yang mendukung kebijakan pemerintah, terutama dalam pelestarian budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Bhayangkari dan seluruh organisasi perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga budaya dan keseimbangan sosial. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyapa masyarakat sekaligus ikut menjaga warisan budaya,” tegasnya.

Ia menilai, penetapan Rebo Bontong sebagai KEN merupakan kebanggaan sekaligus peluang besar yang harus dirawat dengan inovasi berkelanjutan. “Meski festival ini mampu mendongkrak occupancy hotel hingga 100 persen, transformasi dan keberlanjutan tetap menjadi kunci. Generasi muda harus hadir dengan ide segar,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Biro SDM dan Organisasi Kemenparekraf RI Antonio Wasono Imam Prakoso, menegaskan KEN bukan sekadar kalender acara tahunan, melainkan sarana memperluas pasar wisata dan memperkuat ekonomi masyarakat.

“Gili Festival 2025 memadukan tradisi, seni, dan konservasi dengan latar keindahan tiga Gili. Dengan tema Feel the Sensation, Feel the Excitement, kami ingin wisatawan merasakan kegembiraan yang sama dengan masyarakat lokal. Event ini menonjolkan kesetaraan, kebersamaan, dan kearifan lokal,” katanya.

Ia menambahkan, pengembangan event pariwisata harus berangkat dari unique selling point serta inovasi kreatif agar menjadi daya tarik yang kuat.

Kemenparekraf mendukung penuh penyelenggaraan Gili Festival demi pencapaian target 16 juta wisatawan mancanegara, 1,08 miliar pergerakan wisatawan nusantara, dan 25,8 juta tenaga kerja sektor pariwisata pada 2025.

Dukungan itu dituangkan melalui lima program unggulan: transformasi digital pariwisata (tourism 5.0), gerakan wisata bersih, penguatan gastronomi, pengembangan merry and wellness tourism, serta event global berbasis budaya lokal dan desa wisata.

Di akhir pernyataannya, Ny. Heny menekankan pentingnya menyeimbangkan modernisasi dengan kearifan lokal dalam mengemas tradisi.

“Pelestarian budaya adalah citra masyarakat lokal yang arif sekaligus modal sosial pariwisata. Modernisasi hanyalah alat. Jika dikelola tepat, hasilnya bisa maksimal,” katanya.

Ia menutup dengan komitmen Bhayangkari untuk terus terlibat dalam kegiatan budaya dan pariwisata, termasuk bermitra dengan manajer pariwisata dalam event mendatang, baik skala nasional maupun pengembangan SDM pariwisata.

“Bahagia itu ketika kita bisa membuat banyak orang ikut berbahagia. Melalui pelestarian budaya seperti Rebo Bontong, kita mewujudkan kebahagiaan bersama yang berdampak luas bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)

Editor : Marthadi
#Kharisma Event Nusantara #rebo bontong #Gili festival 2025 #bhayangkari Lombok utara #pariwisata berkelanjutan