Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Kemeriahan Gili Festival 2025 di Kawasan Wisata Gili Air, Wisatawan Mancanegara Ikut Berdiri Serakalan hingga Begibung

Habibul Adnan • Kamis, 21 Agustus 2025 | 22:05 WIB

BERBAUR: Sejumlah wisatawan asing tampak ikut Begibung dalam kegiatan Gili Festival di Gili Air, Rabu (20/8).
BERBAUR: Sejumlah wisatawan asing tampak ikut Begibung dalam kegiatan Gili Festival di Gili Air, Rabu (20/8).
LombokPost - Festival Gili 2025 terasa berbeda. Pasalnya, para wisatawan asing ikut berpartisipasi. Bahkan, mereka larut dalam beberapa ritual.


Deru ombak yang pelan berpadu dengan lantunan doa dan serakalan. Di bawah payung langit biru, warga dan wisatawan berbaur, menyaksikan salah satu tradisi yang sudah diwariskan turun-temurun, yaitu Mandi Safar atau Rebo Bontong.

Sebelum prosesi mandi bersama dimulai, suasana khidmat lebih dulu terasa ketika serakalan dibacakan.

Menariknya, sejumlah wisatawan mancanegara ikut berdiri saat serakalan dibaca.

Mereka memang tidak melantunkan bacaan, tetapi raut wajahnya tampak serius. Seakan berusaha memahami makna doa yang sedang dipanjatkan.

Setelah doa selesai, suasana berubah cair. Semua orang duduk bersama dalam begibung, tradisi makan bersama.

Aneka makanan tradisional tersaji. Ada topat (ketupat), sate, hingga pelecing kangkung dengan cabai rawit segar yang langsung menggigit lidah.

”Ini pengalaman yang sangat eksited. Tidak ada hal seperti ini di negara saya,” kata Willy, wisatawan asal Swedia.

Ia menyendok pelecing dengan hati-hati sebelum tertawa kecil karena kepedasan. Dia mengaku, sejumlah makanan yang tersaji di hadapannya sudah familiar.

Dia juga mengaku tak canggung mengenakan pakaian ala wisatawan asing lainnya.

Makna kebersamaan inilah yang ditekankan oleh Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Heny Agus Purwanta, yang juga hadir di Gili Festival.

Menurutnya, Mandi Safar adalah simbol penyucian diri, sementara begibung mengajarkan nilai egaliter.

”Begibung tidak memandang kasta, usia, agama, atau status. Semua duduk bersama, baik rakyat maupun pejabat, dalam kondisi sama. Ini bentuk rasa syukur dan persaudaraan,” katanya.

Heny menilai, tradisi seperti ini adalah kekayaan yang harus terus dijaga. Selain untuk mempererat tali silaturahmi, juga menjadi daya tarik wisata yang unik.

Dia berharap, kualitas penyambutan tamu, menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan perlu ditingkatkan.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) KLU Harun Zainudin, menyebut kunjungan wisatawan meningkat signifikan sejak awal rangkaian acara.

”Turis asing bahkan kita minta memberikan komentar tentang pengalaman mereka, dan hampir semuanya antusias” ungkapnya.

Pemandangan unik terlihat ketika turis-turis asing mengabadikan prosesi dengan ponsel, lalu mengunggah di medsos masing-masing.

”Wisatawan juga kita minta share ke medsos masing-masing untuk membantu kita membangkitkan dan mendongkrak pariwisata kita, khususnya di Gili,” tutup Harun Zainudin.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Gili Air #mandi safar KLU #gili air lombok #Gili festival 2025 #rebo bontong KLU #Lombok Utara