Di salah satu sudut Desa Pemenang Timur, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, berdiri rumah sederhana yang hampir setiap hari dipenuhi aroma kopi.
Dari ruang tengah yang sekaligus dijadikan tempat produksi, toples-toples besar berjejer rapi.
Sebagian besar kini kosong, hanya menyisakan bau khas kopi yang baru saja disangrai. Di rak belakang, kemasan berlabel Kopi Bimbo tertata dengan ukuran berbeda.
Ada yang 250 gram dan ada pula yang 500 gram. Satu per satu kemasan itu menunggu untuk dikirim ke berbagai tempat. Dari Lombok hingga Jakarta dan Surabaya.
Pemilik usaha ini, Asmuni Hasan, adalah pria beruban berusia 51 tahun. Pria yang dikenal dengan panggilan akrab Bimbo itu tampak sibuk mengatur persediaan, mengisi kemasan, atau sesekali melayani pembeli yang datang langsung ke rumahnya.
”Kalau sampai stok kosong, bisa gawat. Pelanggan fanatik itu harus dijaga kepercayaannya,” ujar Bimbo.
Bimbo memulai usaha kopinya pada tahun 2019. Bukan dengan modal besar, melainkan dengan niat untuk berdikari.
Ia membeli biji kopi mentah, menyangrai sendiri, lalu mengemasnya dalam bungkusan sederhana dengan label Kopi Bimbo.
Usaha ini ia jalankan tanpa afiliasi dengan program pemerintah. Dalam perjalanannya, Bimbo memilih jalur distribusi yang unik. Ia tidak membuka toko khusus.
Penjualan utamanya dilakukan dari rumah. Sesekali ia mengunggah foto atau informasi di media sosial untuk menarik pelanggan baru.
Ternyata, cara sederhana itu cukup ampuh. Pesanan berdatangan, tidak hanya dari NTB, tetapi juga dari luar daerah.
”Dari Surabaya, Jakarta, Lombok Barat, Lombok Timur, sampai Sumbawa. Banyak yang beli untuk oleh-oleh,” tandasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam