Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ngopi Bareng dan Ngobrol Budaya bersama Bupati-Wabup: Sepakat Bangun Gerbang dan Busana Khas Lombok Utara

Habibul Adnan • Sabtu, 20 September 2025 | 06:00 WIB
SERIUS TAPI SANTAI: Suasana ngopi bareng dan ngobrol budaya di sebuah lesehan. Dalam kesempatan itu hadir para budayawan
SERIUS TAPI SANTAI: Suasana ngopi bareng dan ngobrol budaya di sebuah lesehan. Dalam kesempatan itu hadir para budayawan

LombokPost - Bupati dan Wakil Bupati Lombok Utara menggelar Ngopi Bareng dan Ngobrol Budaya pada Kamis (18/9) lalu. Pada kesempatan itu, masalah kebudayaan menjadi tema pembicaraan utama.


Deretan kursi bambu dan meja kayu sederhana tertata rapi di sebuah lesehan di Kecamatan Tanjung.

Aroma kopi panas bercampur dengan semilir angin pagi, membuat suasana hangat dan akrab.

Di antara gelas-gelas kopi yang mengepul, terdengar canda ringan dan obrolan serius tentang hal yang tak kalah penting.

Yaitu bagaimana budaya bisa menjadi fondasi pembangunan Lombok Utara.

Tampak hadir wajah-wajah penting daerah dalam kegiatan bertajuk Coffee Morning Ngopi Bareng dan Ngobrol Budaya itu.

Seperti Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar, yang duduk berdampingan dengan Wakil Bupati Kusmalahadi Syamsuri.

Mereka tidak datang hanya untuk mendengar, tapi ikut larut dalam diskusi bersama tokoh budaya, tokoh masyarakat, dan para pejabat terkait.

“Budaya adalah fondasi kemajuan suatu bangsa,” kata Kepala Bappeda KLU Ir. Hermanto, membuka pembicaraan.

Suasana hening sejenak, hanya terdengar bunyi sendok beradu dengan cangkir. Hermanto menjelaskan bahwa pembangunan kebudayaan di Lombok Utara kini memasuki fase penting: menggali jati diri sekaligus melestarikan warisan leluhur.

Kata dia, tahun ini ada dua fokus utama. Yaitu menghadirkan arsitektur gerbang khas Lombok Utara dan merumuskan busana daerah.

“Forum ini menjadi ajang silaturahmi, untuk berdialog dan menemukan kembali objek-objek kebudayaan,” tambahnya.

Sorot perhatian peserta kemudian tertuju pada Bupati Najmul. Dengan suara mantap, ia menegaskan bahwa kebudayaan bukan hanya ornamen, tapi fondasi peradaban.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai, melestarikan, dan memajukan budayanya sendiri,” ujarnya.

Najmul lalu menggambarkan mimpinya. Pembuatan gerbang yang tidak sekadar menjadi pintu masuk, melainkan simbol penyambutan dan penghormatan.

Ia membayangkan gerbang yang memadukan elemen rumah adat Sasak, keanggunan Masjid Bayan Beleq, filosofi Gunung Rinjani dan laut, hingga nilai religius dan keramahan masyarakat.

“Arsitektur gerbang itu akan ‘berbicara’ sebagai wajah daerah. Inilah jati diri, inilah rumah kita bersama,” tegasnya.

Tak hanya gerbang, busana khas Lombok Utara juga menjadi sorotan. Najmul menekankan, pakaian adalah simbol kebanggaan kolektif.

Ia yakin, bila dirancang dengan baik, busana khas ini akan menjadi ikon baru sekaligus membuka peluang kesejahteraan bagi masyarakat melalui ekonomi kreatif.

Lebih jauh, Najmul menyampaikan, banyak peradaban besar runtuh bukan karena perang, melainkan karena hilangnya identitas budaya.

Karena itu, dia berharap momentum ini menjadi langkah awal kebangkitan budaya Lombok Utara.

“Saya percaya, dari forum sederhana seperti ini, akan lahir ide-ide besar yang kelak menjadi kebijakan strategis,” pungkasnya.

Editor : Rury Anjas Andita
#kebudayaan lokal #Najmul Akhyar #Kusmalahadi Syamsuri #Pemda KLU #Lombok Utara