Di lahan seluas seribu meter persegi di Desa Teniga, Kecamatan Tanjung, para pekerja tampak sibuk menyusun bata, merangkai besi, dan merapikan struktur bangunan.
Bangunan itu kelak menjadi salah satu pusat penting di Lombok Utara, yaitu Pusat Observasi Bulan (POB).
Seiring dinding yang mulai berdiri dan menara yang bersiap menjulang, POB Teniga kian dekat dengan kenyataan. Dari desa kecil di Lombok Utara, mata masyarakat kelak bisa menatap bulan dengan lebih dekat.
Meski baru dimulai pada 13 Agustus 2025 lalu, pembangunan POB kini sudah menunjukkan perkembangan signifikan. Progresnya mencapai 30 persen.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan POB Suparlan, yakin proyek ini bisa rampung tepat waktu pada Desember 2025 mendatang.
”Dengan anggaran sekitar Rp 1,2 miliar, kita targetkan selesai sesuai jadwal. Bangunan utama luasnya 165 meter persegi, dan akan dilengkapi menara setinggi 30 meter untuk pemantauan hilal,” jelas Suparlan, yang juga menjabat Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Lombok Utara.
POB Teniga tidak hanya sekadar menjadi tempat pengamatan hilal untuk penentuan awal Ramadan, Syawal, atau Zulhijjah.
Suparlan membayangkan kawasan ini sebagai destinasi terpadu, tempat agama, pendidikan, dan pariwisata bertemu.
Di sekitar POB, diproyeksikan menghadirkan ruang UMKM, koperasi, hingga lahan hidroponik. Bahkan, ia mengusulkan adanya miniatur Kakbah sebagai sarana manasik haji.
”Konsepnya harus terintegrasi. Setiap perayaan hari besar keagamaan, kegiatan pemantauan hilal bisa menjadi magnet wisata religi,” ujarnya.
Kepala Desa Teniga Muhammad Yusuf, tak bisa menyembunyikan kebanggaannya. Menurutnya, pembangunan POB ini akan menjadi babak baru bagi desanya.
Mewakili masyarakat desa, dia menyampaikan rasa bangga. Dia berharap, adanya pusat pemantauan hilal akan membawa dampak positif, bukan hanya untuk syiar keagamaan, tapi juga perkembangan ilmu astronomi, pendidikan, dan pariwisata.
Ia yakin, bila sesuai target, Lombok Utara akan memiliki salah satu pusat pengamatan bulan paling representatif di Indonesia. Sesuatu yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan, kini perlahan menjadi nyata.
Editor : Siti Aeny Maryam