LombokPost - Siapa sangka, sampah dapur bisa berubah menjadi “emas cair” bernilai tinggi?
Di tangan Bhayangkari Cabang Lombok Utara, limbah rumah tangga kini disulap menjadi 50 liter cairan Eco Enzyme, produk ramah lingkungan yang bermanfaat sebagai pupuk, pembersih alami, hingga pestisida organik.
Bhayangkari Cabang Lombok Utara di bawah kepemimpinan Ny. Heny Agus Purwanta sukses memproduksi 50 liter cairan Eco Enzyme hasil fermentasi sampah dapur rumah tangga selama tiga bulan.
Inovasi ini menjadi langkah nyata organisasi istri anggota Polri tersebut dalam mendukung program nasional ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan hidup.
Baca Juga: Universitas Bumigora Dukung Penguatan Mutu Perguruan Tinggi melalui BIMTEK Implementasi SPMI
Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara Ny. Heny Agus Purwanta menjelaskan bahwa pembuatan Eco Enzyme merupakan bentuk kontribusi Bhayangkari terhadap pengelolaan sampah rumah tangga sekaligus solusi alternatif menghadapi tingginya harga pupuk kimia.
“Eco Enzyme menjadi salah satu solusi atas penanganan sampah rumah tangga sekaligus solusi bagi petani atau siapapun yang hobi bertanam dalam menyikapi tingginya harga pupuk,” ujar Ny. Heny di kantor Bhayangkari, Jumat (10/10).
Menurutnya, program ini merupakan tindak lanjut dari arahan Ketua Umum Bhayangkari Ny. Juliati Sigit Prabowo dan Ketua Bhayangkari Daerah NTB Ny. Santi Hadi Gunawan, agar seluruh jajaran Bhayangkari aktif memproduksi Eco Enzyme sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan ketahanan pangan nasional.
Baca Juga: PLN IP Jeranjang Gelar Pelatihan Pengelolaan Sampah di Pandanan
Proses pembuatannya pun terbilang mudah. Bahan utama yang digunakan adalah gula merah, sampah dapur seperti kulit buah dan batang sayur, serta air bekas cucian sayur dengan perbandingan 1:3:10.
Campuran difermentasi selama tiga bulan dalam wadah tertutup, dengan pengecekan rutin untuk membuang gas hasil fermentasi.
“Sepanjang bahan bersih dan takaran sesuai, proses ini hampir tanpa kendala. Setelah tiga bulan, hasilnya sangat bagus, cairan berwarna cokelat, harum khas fermentasi buah, tanpa ulat, dan siap digunakan,” jelas Ny. Heny.
Cairan hasil fermentasi ini dapat digunakan sebagai pupuk organik, pestisida alami, maupun pembersih ramah lingkungan. Bahkan, satu liter Eco Enzyme bisa diencerkan dengan seribu liter air untuk pemanfaatan di lahan pertanian.
“Jika dikerjakan bersama-sama oleh seluruh anggota, hasilnya bukan sedikit. Ini juga bisa membantu Polri dalam mensukseskan program ketahanan pangan, seperti untuk kebutuhan pupuk tanaman jagung,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut, Bhayangkari Cabang Lombok Utara akan menyalurkan hasil Eco Enzyme kepada anggota untuk digunakan di lahan P2L (Pekarangan Pangan Lestari) di tiap wilayah. Selain itu, mereka juga akan menggelar pelatihan bagi masyarakat dan ibu rumah tangga agar mampu mengolah sampah dapur secara mandiri.
“Rencananya, hasil Eco Enzyme ini akan saya bagikan kepada anggota dan masyarakat, sembari memberikan pelatihan bagi ibu-ibu dalam memanfaatkan sampah dapur menjadi cairan yang kaya manfaat dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Ny. Heny berharap gerakan ini menjadi kebiasaan baru bagi keluarga dan generasi muda Lombok Utara dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Harapan saya, Eco Enzyme menjadi kebiasaan baru ibu-ibu dan generasi muda Lombok Utara, demi menciptakan kabupaten yang ramah lingkungan, subur, dan kaya dengan budidaya pertanian,” katanya.
Program yang dicanangkan oleh Ketua Umum Bhayangkari dan Bhayangkari Daerah NTB ini mendapat dukungan penuh dari Polres dan Polsek di Kabupaten Lombok Utara.
Sebagai penutup, Ny. Heny menyampaikan pesan sederhana namun bermakna yang kini menjadi semboyan Bhayangkari Lombok Utara dalam gerakan hijau mereka:
“Eco Enzyme, kantong aman, ramah lingkungan, untuk panen melimpah dan keluarga senang. Happy memasak sehat, Bhayangkari Lombok Utara yang ceria dengan Eco Enzyme!” (*)
Editor : Marthadi