LombokPost - Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Lombok Utara tidak hanya fokus pada pembelajaran akademik.
Siswa juga diberi ruang untuk mengembangkan kreativitas melalui berbagai kegiatan.
Dua pasang mata tampak fokus menatap layar Chromebook di ruang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SLBN 1 Lombok Utara.
Di layar besar di depan kelas, terpampang tulisan sederhana: “Sayur Pokcoy, Jamur Crispy, Batik Tau Daya, Donat, Brownies.”
Teks itu coba diketik ulang oleh dua siswa, Yusikar dari jenjang SMPLB dan Zulma dari SMALB.
Dengan sabar, keduanya belajar membuat desain menggunakan Canva, sebuah aplikasi desain grafis daring.
“Mereka punya bakat dan minat di bidang TIK," jelas Kepala SLBN 1 Lombok Utara Iriyati.
Di.samping karena memiliki bakat dan minat di bidang TIK, kedua siswa ini juga mobilisasi terbatas untuk bidang vokasi lain.
"Jadi kami arahkan agar fokus mengembangkan kemampuan yang sesuai,” kata Iriyati lagi.
Menurut Iriyati, kegiatan di SLBN 1 Lombok Utara tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik.
Siswa juga diberi ruang untuk mengembangkan kreativitas melalui berbagai kegiatan vokasi. Seperti membatik, berkebun, dan tata boga.
Namun, ia menegaskan bahwa setiap pengembangan dilakukan sesuai kemampuan masing-masing anak.
“Kami tidak memaksakan semua harus terampil di bidang tertentu. Dari sepuluh siswa, kalau ada tiga atau empat yang bisa mengembangkan kreativitasnya, itu sudah hasil yang sangat bagus,” ujarnya.
Untuk mendukung kemandirian para siswa, sekolah juga menggandeng Forum Lintas Usaha Tani (FLUT) UMKM.
Melalui kerja sama yang baru terjalin tahun ini, para lulusan mendapatkan kesempatan pendampingan dan bahkan bantuan modal usaha.
Sementara itu, Nausyad Ema Istasfi, guru TIK di SLBN 1 Lombok Utara mengatakan, Yusikar dan Zulma sudah diajari beberapa kompetensi TIK.
Seperti sudah mampu mengetik. Kemudian kini mereka diajari desain grafis
Mereka belajar desain melalui platform Canva. Nausyad menerangkan, penggunaan Canva menjadi salah satu cara mengenalkan dunia digital kepada siswa tunadaksa ini.
“Mereka membuat desain produk hasil karya sekolah," jelasnya.
Produk yang dibuat untuk didesain itu ada sayur pokcoy, jamur crispy, batik tau daya, donat, dan brownies.
“Desain itu kemudian dicetak dan dipajang di sekolah,” pungkas Nausyad.
Menurut Nausyad, di tangan Yusikar dan Zulma, Canva bukan sekadar aplikasi desain.
Lebih dari itu, menjadi jendela baru untuk berekspresi dan menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkreasi.
Editor : Akbar Sirinawa