Kepala Dinas Kesehatan KLU Lalu Bahrudin mengungkapkan, sejumlah proses penting sudah berjalan bersama Tim Percepatan Pembangunan RS.
Lokasi rumah sakit telah dipastikan berada di Desa Andalan, di atas lahan seluas 3 hektare. Aset itu milik Pemda yang sebelumnya telah memenuhi syarat sebagai tempat pembangunan rumah sakit daerah.
Bahrudin mengaku, tahapan yang sudah diselesaikan adalah Feasibility Study (FS) atau uji kelayakan. Di mana hasilnya 80 persen dinyatakan layak.
"Kami diminta melanjutkan penyusunan masterplan dan DED. Proses itu sedang berjalan, namun anggarannya baru tersedia pada tahun 2026,” jelas Bahrudin.
Saat ini, Pemda juga menata bidang lahan dan menunggu tim appraisal turun.
Bahrudin mengaku, tim appraisal akan melakukan penilaian harga terhadap bidang tanah milik warga yang harus dibebaskan sebagai akses jalan masuk menuju RS.
Warga pemilik lahan disebut sudah menandatangani surat kuasa di hadapan notaris.
Sementara itu, Bahrudin mengaku, total kebutuhan anggaran pembangunan rumah sakit mencapai Rp 142 miliar, termasuk untuk pemenuhan sarana pendukung.
Pada APBD 2026, Pemkab hanya menyetujui anggaran untuk pembebasan lahan dan pemagaran.
Sementara pembangunan fasilitas seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan beberapa poli belum mendapatkan alokasi anggaran.
“Kalau ada revisi bisa saja UGD dibangun, tetapi saat ini yang pasti hanya pembebasan lahan dan pemagaran. Pembangunan akan dilakukan bertahap,” ujarnya.
Bahrudin memastikan, RS sudah beroperasi pada masa pemerintahan Bupati Najmul Akhyar dan Wakil Bupati Kusmalahadi Syamsuri.
Terkait perizinan, sebagian besar akan diproses di daerah. "Ke pemerintah pusat hanya pemberitahuan bahwa KLU sedang membangun RS tipe D sebagai penunjang RSUD tipe C," katanya.
Untuk kebutuhan SDM, rumah sakit baru akan memerlukan tujuh dokter spesialis dasar plus satu spesialis penunjang.
Ia berharap pemerintah pusat mendistribusikan dokter melalui program penempatan dokter spesialis.
“Kalau tidak dapat dari program itu, bisa dipenuhi dari SDM internal RSUD Tipe C Lombok Utara, karena beberapa spesialis di sana jumlahnya lebih dari satu. Untuk bidan dan perawat juga pasti akan ditambah,” tutupnya.
Editor : Siti Aeny Maryam