Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kegigihan Muhamad Sukri Mengedukasi Petani Menuju Revolusi Organik di Lombok Utara

Habibul Adnan • Kamis, 18 Desember 2025 | 21:46 WIB
Muhamad Sukri
Muhamad Sukri

LombokPost - Di tengah ketergantungan petani terhadap pupuk kimia, nama Muhamad Sukri muncul sebagai salah satu tokoh yang tak lelah menyuarakan perubahan.

Sudah telah puluhan tahun mengedukasi petani di Kabupaten Lombok Utara (KLU) untuk beralih secara bertahap ke pertanian organik.

Sosok Muhamad Sukri sudah tak asing bagi masyarakat Lombok Utara. Terutama bagi masyarakat petani.

Dia melakukan berbagai aksi nyatanya di sektor pertanian selama bertahun-tahun.

Dia pernah menjabat sebagai Kepala Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang selama dua periode.

Namun, kiprah Sukri di bidang pertanian jauh melampaui jabatan formalnya.

Sejak tahun 1990-an, ia telah konsisten mendorong pemanfaatan pupuk dan pestisida organik sebagai solusi atas kerusakan tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan.

“Tanah kita sudah lelah karena terlalu lama diberi bahan kimia,” ujar Sukri.

Menurutnya, pupuk organik justru mampu memperbaiki struktur tanah menjadi lebih ideal.

Dampaknya, tanaman tumbuh lebih cepat, batang dan daun lebih sehat, serta produksi meningkat secara signifikan.

Keyakinan tersebut bukan sekadar teori. Sukri mengaku telah membuktikannya sendiri di berbagai lahan.

Salah satu contoh nyata terdapat di Desa Samaguna, Kecamatan Tanjung.

Di lahan milik seorang warga, hasil panen padi meningkat hingga mencapai satu ton gabah dari luasan 10 are setelah penggunaan pupuk kimia dikurangi dan digantikan dengan pupuk organik.

Sejak 1990, Sukri telah memproduksi pupuk dan pestisida organik secara mandiri.

Bahan-bahannya berasal dari limbah dan kotoran ternak yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar.

Bagi Sukri, selain murah, bahan-bahan tersebut juga ramah lingkungan. Tetapi yang jauh lebih penting, pemanfaatan pupuk organik mampu mengembalikan kesuburan tanah yang telah rusak sejak era Revolusi Hijau pada 1977.

Meski demikian, Sukri menyadari bahwa mengubah pola pikir petani bukan perkara mudah. Ketergantungan pada pupuk kimia telah berlangsung puluhan tahun. Karena itu, ia tidak memaksakan perubahan secara instan.

“Tidak mungkin langsung 100 persen organik. Yang penting mulai mengurangi dulu,” pria yang kini tinggal di Dusun Bentek, Desa Menggala, Kecamatan Pemenang ini.

Dengan semangat “Revolusi Organik KLU, dia berharap semua pihak sama-sama bergerak. Sukri mengaku, dirinya terus meneriakkan pentingnya transisi pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Ia melakukan sosialisasi dan edukasi secara mandiri, memanfaatkan forum-forum kelompok tani yang ada.

Perannya sebagai pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) juga menjadi ruang strategis untuk menyebarkan gagasan tersebut.

Bagi Sukri, ketika masyarakat mau bergerak bersama, perubahan pasti bisa terjadi.

Ia optimistis, dengan pengurangan pupuk kimia secara bertahap dan pemanfaatan pupuk organik, produktivitas pertanian di Lombok Utara justru akan semakin meningkat. "Sekaligus memperbaiki tanah lebih ideal" tutupnya.

Editor : Redaksi Lombok Post
#Sukri Lombok Utara #petani Lombok utara #Pupuk Organik #penggunaan organik di Lombok Utara