Dinas Perpusda Lombok Utara tak tinggal diam di tengah sunyinya ruang baca dan rak-rak buku yang belum sepenuhnya terisi di Perpustakaan tersebut.
Alih-alih menunggu pengunjung datang, mereka justru “menjemput bola” ke sekolah-sekolah.
Langkah itu ditempuh untuk mendongkrak kembali angka kunjungan ke Perpustakaan Daerah (Perpusda) Lombok Utara yang belakangan mengalami penurunan.
Para siswa didorong membuat agenda rutin agar minimal sebulan sekali berkunjung ke perpustakaan.
“Kami tidak tinggal diam, dengan turunnya angka kunjungan. Kami jemput bola ke sekolah-sekolah, membuat agenda agar sekolah bisa berkunjung ke pusda minimal satu bulan sekali,” ujar Kabid Perpustakaan Perpusda) Lombok Utara Doni Tarabi.
Bagi Doni , perpustakaan bukan sekedar bangunan dengan deretan buku. Ia harus hidup, dipenuhi interaksi, diskusi, dan rasa ingin tahu.
Namun dia menyadari, tantangan yang dihadapi tak ringan.
Selain pola layanan baca yang masih konvensional, jumlah koleksi buku juga dinilai jauh dari ideal.
Merujuk pada ketentuan dalam regulasi perpustakaan, rasio ideal kepemilikan buku daerah dihitung berdasarkan jumlah penduduk dikalikan 0,05.
Dengan jumlah penduduk KLU sekitar 268 ribu jiwa berdasarkan sensus 2024, semestinya ada penambahan sekitar 13 ribu judul buku setiap tahun.
Sementara saat ini, koleksi Perpustakaan Daerah Lombok Utara masih jauh dari kata ideal dan belum sebanding dengan kebutuhan literasi masyarakat.
“Ini jelas kita jauh dari kata ideal. Seharusnya perbandingannya 1 berbanding 4, artinya setiap orang bisa membaca empat judul buku. Kalau kita menggunakan rasio sekarang, itu masih sangat rendah,” tegas Doni.
Keterbatasan koleksi dan fasilitas tidak menyurutkan semangat mereka.
Program kunjungan terjadwal ke sekolah diharapkan menjadi pintu masuk membangun budaya literasi sejak dini.
Dalam kunjungan itu, kata Doni, anak-anak diperkenalkan kembali pada perpustakaan sebagai ruang belajar yang menyenangkan.
Harapannya, ke depan pemerintah daerah dapat meningkatkan alokasi pengadaan buku dan pembenahan fasilitas.
Dengan begitu, perpustakaan benar-benar menjadi jantung literasi daerah. Bukan sekadar tempat sunyi penuh aturan.
“Semoga kemampuan daerah kita terus meningkat agar kepemilikan buku bisa dikategorikan ideal,” tandasnya.
Editor : Kimda Farida