LombokPost - Karya tangan-tangan terampil siswa SLBN 1 Lombok Utara mendapat perhatian khusus dari Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal.
Gubernur bahkan memberikan apresiasi terhadap karya siswa berkebutuhan khusus ini.
Gubernur tampak mendekat, mengamati detail garis dan warna. Ia bertanya tentang motif yang tergambar serta proses pewarnaan yang digunakan.
"Bagus sekali, patut diapresiasi," ujar Miq Iqbal, sapaan akrab gubernur NTB ini.
Miq Iqbal berharap agar terus dikembangkan. Dia menilai, karya ini bukan sekadar kain, melainkan simbol ketekunan dan harapan.
Dia menegaskan, pemerintah siap mensuport dan kemajuan karya para siswa SLBN 1 Lombok Utara.
Kepala SLBN 1 Lombok Utara Iriyati, tak dapat menyembunyikan rasa harunya.
Baginya, momen memperkenalkan Batik Tau Daya kepada orang nomor satu di NTB menjadi kebanggaan tersendiri.
"Bangga bisa langsung memperkenalkan kepada gubernur," ujarnya.
Batik Tau Daya kini memiliki dua motif utama, yaitu Jong Bayan dan Masjid Kuno. Kedua motif ini terinspirasi dari kekayaan sejarah dan budaya Lombok Utara.
Tak hanya indah secara visual, kedua motif tersebut telah resmi mengantongi sertifikat hak cipta.
Langkah itu ditempuh untuk melindungi karya siswa penyandang disabilitas agar tidak diklaim pihak lain. “Tujuannya untuk menjaga karya anak-anak,” ujar Iriyati.
Perjalanan membatik di sekolah ini terbilang masih seumur jagung, baru sekitar dua tahun. Namun perkembangan yang dicapai begitu pesat.
Lebih dari 400 lembar batik telah berhasil diproduksi. Setiap lembar menjadi saksi proses belajar yang penuh kesabaran, ketelitian, dan semangat pantang menyerah.
Yang membanggakan, batik-batik tersebut tak berhenti sebagai hasil praktik di ruang kelas. Karya itu mulai dilirik berbagai pihak.
Pesanan datang dari instansi pemerintahan, lembaga, hingga komunitas. Batik Tau Daya perlahan menemukan tempatnya di hati masyarakat.
Pemilihan motif khas Lombok Utara pun bukan keputusan tanpa makna. Iriyati menjelaskan, sekolah sengaja mengangkat kekhasan daerah sebagai identitas.
Harapannya, batik ini tak hanya menjadi produk kreatif, tetapi juga medium untuk memperkenalkan budaya Lombok Utara kepada khalayak yang lebih luas.
“Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memperkenalkan kebanggaan kita?. Kami di SLBN 1 Lombok Utara sudah memulai,” tuturnya.
Kini, kegiatan vokasi membatik telah menjelma menjadi program unggulan sekolah. Lebih dari itu, ia menjadi ruang bagi siswa untuk mengenali potensi diri dan membangun rasa percaya diri.
SLBN 1 Lombok Utara membuka layanan personalisasi bagi pemesan. Konsumen dapat menambahkan nama lembaga, memilih warna, bahkan menentukan motif sesuai keinginan. "Banyak yang pesan motif dan nama sesuai keinginan," kata Iriyati.
Editor : Marthadi