Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melawan Mitos "Spiral" dari Balik Meja Posyandu di Kaki Rinjani

Habibul Adnan • Jumat, 17 April 2026 | 13:08 WIB
MENYIMAK: Para peserta mengikuti pembinaan posyandu inovatif, Rabu (15/4). (HABIBUL ADNAN/LOMBOK POST)
MENYIMAK: Para peserta mengikuti pembinaan posyandu inovatif, Rabu (15/4). (HABIBUL ADNAN/LOMBOK POST)

LombokPost - Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP2KBPMD) Lombok Utara menggelar pembinaan posyandu inovatif, Rabu (15/4). Pada kesempatan itu juga ada pemberian penghargaan bagi akseptor KB IUD pascapersalinan. 

Puluhan ibu duduk berjejer mengenakan jilbab berwarna-warni. Sebagian menggendong balita, sebagian lain sibuk menenangkan anak-anak mereka yang berlarian kecil di sela kursi. Sesekali terdengar tawa pecah ketika para kader posyandu mengajak peserta berinteraksi.

Di deretan depan, beberapa ibu tampak maju menerima bingkisan dan piagam penghargaan. Mereka bukan pemenang lomba ataupun tokoh masyarakat. Mereka adalah para ibu yang memilih menggunakan alat kontrasepsi IUD pascapersalinan.

Baca Juga: Dukung Pencegahan Stunting dan Gizi Buruk, Astra Group Mataram Distribusikan Makanan Tambahan di Posyandu Kelurahan Cakra Selatan

Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi para ibu di Lombok Utara, memilih IUD masih sering dibayangi keraguan, rasa takut, hingga beragam cerita yang belum tentu benar.

Karena itu, DP2KBPMD bersama TP PKK Lombok Utara mencoba menghadirkan pendekatan yang berbeda. Bukan sekadar sosialisasi formal, tetapi pembinaan posyandu inovatif yang dibalut suasana hangat dan penuh kedekatan.

Ketua TP PKK KLU Rohani Najmul Akhyar, tampak berdiri di hadapan para ibu. Dengan suara tenang, ia mengajak mereka melihat perencanaan keluarga bukan sebagai beban, melainkan bentuk kasih sayang kepada anak-anak. ”Dengan perencanaan keluarga yang matang, anak-anak akan tumbuh lebih sehat, cerdas, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Baca Juga: Gubernur Miq Iqbal Resmikan Kompleks Pertokoan Masjid Jami’ Al-Akbar Masbagik, Serahkan Bantuan dan Apresiasi Posyandu

Menurut Rohani, penggunaan alat kontrasepsi IUD atau spiral menjadi salah satu pilihan yang aman dan efektif. Selain dapat digunakan dalam jangka panjang, IUD juga memiliki risiko efek samping yang relatif kecil. ”Bisa digunakan lima sampai sepuluh tahun,” katanya.

Namun, ia mengakui, penggunaan IUD di Lombok Utara masih tergolong rendah. Banyak ibu yang masih ragu karena kurang informasi. Bahkan ada yang takut hanya karena mendengar cerita dari orang lain.

Di sudut ruangan, seorang ibu muda tampak mengangguk pelan saat mendengar penjelasan itu. Ia mengaku sempat menolak menggunakan IUD setelah melahirkan anak keduanya. Ia takut karena mendengar kabar bahwa alat tersebut bisa berpindah tempat di dalam tubuh.

Baca Juga: Pemprov NTB Libatkan Kader Posyandu dalam Program Desa Berdaya,

Tetapi setelah berkonsultasi dengan bidan dan kader posyandu, ia akhirnya memahami bahwa IUD aman digunakan jika dipasang sesuai prosedur. ”Ternyata merasa lebih tenang karena bisa mengatur jarak kelahiran anak,” tuturnya.

Cerita-cerita seperti itulah yang ingin diubah melalui kegiatan pembinaan posyandu inovatif. Pemerintah daerah tidak hanya mendorong para ibu menggunakan kontrasepsi, tetapi juga memastikan mereka memahami manfaat dan risikonya secara benar.

Kepala DP2KBPMD Lombok Utara Gumbara Atmaja menjelaskan, bahwa kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari monitoring dan evaluasi layanan posyandu di desa-desa. Menurutnya, posyandu kini tidak lagi cukup hanya menjadi tempat menimbang balita.

”Posyandu harus menjadi ruang belajar, ruang konsultasi, dan ruang saling menguatkan bagi para ibu,” tandasnya. (Habibul Adnan, Tanjung/r8)

Editor : Redaksi
#inovatif #Posyandu #penghargaan #alat kontrasepsi #Lombok Utara