Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Aksi Tak Biasa di Gili Trawangan! Bhayangkari NTB Tuang “Nutrisi Laut” dari Sampah, Hasilnya Mengejutkan

Kimda Farida • Senin, 27 April 2026 | 09:09 WIB
Bhayangkari NTB bersama Bhayangkari Lombok Utara menuangkan eco-enzyme ke perairan Gili Trawangan sebagai upaya menjaga kualitas air dan kelestarian terumbu karang.
Bhayangkari NTB bersama Bhayangkari Lombok Utara menuangkan eco-enzyme ke perairan Gili Trawangan sebagai upaya menjaga kualitas air dan kelestarian terumbu karang.

 

LombokPost--Aksi unik sekaligus penuh makna terjadi di perairan Gili Trawangan. Bhayangkari Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Bhayangkari Lombok Utara melakukan langkah tak biasa demi menjaga kelestarian laut: menuangkan puluhan liter “nutrisi laut” hasil olahan sampah organik.

Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan HUT Yayasan Kemala Bhayangkari (YKB) ke-46 tahun 2026.

Dipimpin langsung Ketua Bhayangkari Daerah NTB, Uty Edy Murbowo, aksi ini bukan sekadar simbolis—melainkan solusi nyata untuk mengatasi pencemaran laut di destinasi wisata dunia tersebut.

Sedikitnya 50 liter cairan Eco-Enzyme dituang ke laut.

Cairan ini bukan bahan kimia, melainkan hasil fermentasi limbah dapur seperti kulit buah dan air kelapa yang diproses selama 90 hari.

Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Heny Agus Purwanta, mengungkapkan bahwa Eco-Enzyme memiliki manfaat besar bagi ekosistem laut.

Baca Juga: Arai Agaska Terpelanting, Herjun Atna Kembali Tak Terbendung

Salah satunya adalah kemampuan mengurangi polusi dan membantu menjernihkan air secara alami.

“Yang paling penting, Eco-Enzyme mampu mengubah karbon dioksida menjadi karbonat yang sangat dibutuhkan terumbu karang,” jelasnya.

Tak hanya itu, cairan ini juga efektif menetralkan amonia, mengurai limbah organik, hingga menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya yang merusak kualitas air laut.

Menariknya, proses pembuatan Eco-Enzyme cukup sederhana namun disiplin. Dengan perbandingan 10:3:1 antara air, sampah organik, dan gula/molase, serta fermentasi selama tiga bulan, siapa pun sebenarnya bisa membuatnya.

Bhayangkari pun tak berhenti pada aksi ini saja. Edukasi terus digencarkan, mulai dari sekolah hingga pelaku wisata seperti hotel dan restoran agar bisa memproduksi Eco-Enzyme secara mandiri.

Langkah ini membawa pesan kuat: menjaga laut tak harus selalu dengan cara besar dan mahal. Bahkan dari sampah dapur pun, solusi bisa lahir.

“Kalau laut sehat, ikan melimpah, pariwisata meningkat, dan masyarakat ikut sejahtera,” tegas Heny.

Baca Juga: DPRD Lombok Tengah Tekan Pemda Kejar PAD Rp 900 Miliar!

Gerakan ini diharapkan menjadi inspirasi luas, terutama di kawasan wisata bahari, bahwa menjaga ekosistem bisa dimulai dari hal sederhana—bahkan dari sampah yang sering dianggap tak berguna.

Editor : Kimda Farida
#Bhayangkari NTB #Gili Trawangan #lingkungan #Eco Enzyme #Lombok Utara