LombokPost – Parade desa dan budaya menjadi rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Kabupaten Lombok Utara (KLU), Selasa (21/7). Ribuan masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Parade desa dan budaya yang diikuti seluruh desa, instansi, dan delegasi kecamatan.
Kegiatan ini berlangsung meriah dengan menampilkan berbagai produk unggulan desa yang dibawa menggunakan dulang, serta diiringi kesenian tradisional seperti gendang beleq dan gamelan.
Parade mengambil start di Eks Terminal Tanjung dan berakhir di halaman Kantor Bupati Lombok Utara.
Kegiatan ini dinilai menjadi simbol semangat kebersamaan masyarakat Bumi Tioq Tata Tunaq.
Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar, mengatakan peringatan HUT ke-18 menjadi momentum merefleksikan perjalanan daerah.
Di mana kabupaten yang dipimpinnya ini lahir dari semangat gotong royong dan kerja sama seluruh elemen masyarakat.
Baca Juga: Kabupaten Lombok Utara Terus Menunjukkan Perkembangan Positif di Berbagai Sektor
“18 tahun bukan sekadar angka usia, tetapi perjalanan panjang, mimpi, dan masa depan yang harus terus kita perjuangkan bersama,” ujar Najmul.
Menurutnya, momentum HUT ini juga menjadi kesempatan membulatkan tekad. Membangun persepsi bersama, bahwa Lombok Utara harus lebih maju dan sejahtera.
Ia juga mengakui, selama hampir dua tahun memimpin bersama Wakil Bupati Kusmalahadi Syamsuri, masih ada berbagai program dan harapan masyarakat yang belum sepenuhnya terwujud.
“Kami menyadari masih banyak pekerjaan rumah dan harapan masyarakat yang harus terus diperjuangkan,” katanya.
Baca Juga: Bantuan Sosial di Lombok Utara Sasar 560 Lansia dan Disabilitas
Meski demikian, Najmul optimistis arah pembangunan KLU telah memiliki landasan yang kuat.
Karena itu, ia meminta dukungan dan doa dari seluruh masyarakat agar pembangunan dapat berjalan sesuai harapan.
Sementara itu, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri yang turut hadir dalam perayaan tersebut menyampaikan, bahwa KLU memiliki keistimewaan tersendiri. Yaitu dengan keberadaan destinasi wisata kelas dunia di kawasan Tiga Gili.
Yang cukup membanggakan, dengan perkembangan sektor pariwisata di KLU, tetap diimbangi dengan upaya menjaga kelestarian budaya.
Hal inilah yang harus terus dipertahankan. "Jaga alam dan budaya sebagai warisan bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Menurut Dinda, sapaan akrabnya, usia ke-18 tahun merupakan simbol kedewasaan. Di mana di usia tersebut berada pada fase penuh semangat untuk terus berkembang.
Bumi Dayan Gunung, kata dia, dibangun di atas semangat kolektif dan kebersamaan masyarakatnya.
Editor : Kimda Farida