BUTUH PASOKAN: Sebuah perahu yang membawa air bersih ke Gili Meno. Di kawasan wisata ini masih terjadi krisis air bersih
LombokPost - Krisis air bersih sebagai dampak kekeringan di musim kemarau juga melanda Kabupaten Lombok Utara.
Salah satunya di Gili Meno yang masih belum ada solusi. Tetapi di satu sisi, kondisi tersebut menjadi peluang usaha bagi penjual air swasta.
Meski pasokan air untuk masyarakat sebagian besar telah dilayani PDAM Amerta Dayan Gunung, sejumlah pelaku usaha pariwisata di pulau tersebut masih mengandalkan pasokan air yang dikirim menggunakan mobil tangki dari daratan.
Salah seorang penjual air bersih adalah Sahri. Dia selama ini memasok air bersih khusus untuk kebutuhan perusahaan atau pelaku usaha di Gili Meno.
Pria asal Teluk Kodek, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang itu mengaku, air yang dijual berasal dari sumur milik pribadi.
Menurut Sahri, dalam satu kali pengiriman ia membawa sekitar 5.000 hingga 5.200 liter air bersih untuk satu pelanggan.
Saat kondisi normal, pengiriman dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan untuk setiap pelanggan, tergantung kebutuhan.
Saat ini, ia memiliki sekitar lima pelanggan tetap yang berasal dari sektor pariwisata di Gili Meno. Selain melayani perusahaan, sesekali ia juga mengirim air kepada warga apabila ada permintaan.
Namun, kebutuhan masyarakat umumnya telah dipenuhi melalui layanan PDAM. "Kalau masyarakat ada yang minta, kita bawakan juga. Tapi kebutuhan masyarakat biasanya sudah dipenuhi PDAM," jelasnya.
Sahri mengungkapkan, permintaan air bersih tidak selalu meningkat pada musim kemarau. Menurutnya, volume pengiriman lebih dipengaruhi oleh tingkat kunjungan wisatawan ke Gili Meno.
"Kalau musim kemarau tidak terlalu berpengaruh, karena di Gili Meno tetap krisis air," ucapnya.
Memasuki Juli hingga Agustus, ketika tingkat hunian hotel mulai menurun, intensitas pengiriman juga ikut berkurang.
Sehingga pengiriman air kadang hanya sekali seminggu. "Kalau tamu sepi seperti kemarin, seminggu juga tidak jalan," tuturnya.
Dari sisi usaha, Sahri mengaku bisnis penjualan air bersih belum memberikan keuntungan besar.
Namun, hasil yang diperoleh masih cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menutup biaya operasional.
"Ya sekadar untuk cari sesuap nasi. Kalau rugi terus tentu tidak mungkin dijalankan, masih ada sisanya untuk kerja," katanya.
Ia menjelaskan, investasi terbesar dalam usaha tersebut berada pada penyediaan sumur dan pembelian tangki air.
Untuk satu kali pengiriman dengan kapasitas sekitar 5.200 liter, air dijual kepada pelaku usaha dengan harga sekitar Rp 1,2 juta.
Meski pasokan air bersih ke Gili Meno terus diperkuat pemerintah, keberadaan penjual air swasta seperti Sahri masih menjadi alternatif bagi pelaku usaha pariwisata untuk memenuhi kebutuhan air, terutama saat tingkat kunjungan wisatawan meningkat.