LombokPost - Pekan Apresiasi Sastra Kabupaten Lombok Utara (KLU) 2026 resmi dimulai.
Kegiatan ini mengangkat tema “Menghidupkan Kembali Sastra Lokal sebagai Energi Kultural dalam Membangun Generasi Berbudaya, Kritis, dan Berdaya Saing”.
Sastra tidak hanya diperlombakan, tetapi juga dipelajari, didiskusikan, dan dirayakan. Inilah komitmen yang diperkuat dalam kegiatan Pekan Apresiasi Sastra.
Iya, tidak hanya beragam perlombaan yang disiapkan. Tetapi melalui acara sastra ini juga dibuka ruang berkreasi, berpikir kreatif dalam menentukan arah sastra di masa mendatang.
Ketua Rumah Budaya Kembang Rampe Sammira Sandi Justitia Putra mengaku, ada beberapa agenda dalam Pekan Apresiasi Sastra.
Seperti lomba baca puisi cipta puisi Berbahasa Sasak. Kemudian Lomba Cerpen bertema Mempolong Merenten, hingga Lomba Storytelling cerita rakyat Sasak.
Baca Juga: Pemda KLU Mulai Inventaris Calon Pj Kades di 26 Desa Persiapan
Peserta juga diajak mengikuti lokakarya penulisan puisi. Ruang ini menjadi tempat belajar mengenai proses kreatif, teknik menulis, mengembangkan ide, hingga menjadikan pengalaman hidup dan lingkungan budaya sebagai sumber penciptaan karya sastra.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan seminar sastra Sasak. Sandi mengatakan, kegiatan tersebut lahir dari kegelisahan atas semakin sempitnya ruang apresiasi dan ekspresi sastra lokal.
Menurut Sandi, sastra lokal tidak boleh hanya diposisikan sebagai warisan budaya yang dibicarakan.
Tetapi harus benar-benar dihidupkan sebagai praktik kebudayaan yang hadir di tengah masyarakat, terutama generasi muda.
Baca Juga: Atlet KLU Mentereng di Porprov, DPRD Sarankan Pemda Bangun GOR
Pria yang juga Sekretaris Dewan Kebudayaan Daerah KLU menambahkan, sastra harus menjadi ruang berpikir kritis, berekspresi, membaca realitas. Sastra juga memiliki kekuatan menggerakkan masyarakat.
Sandi menegaskan, membangun ekosistem sastra bukan pekerjaan satu komunitas semata.
Karena itu, pihaknya juga membutuhkan peran pemerintah, sekolah, komunitas, guru, seniman, budayawan, dan lain sebaginya.
"Pekan Apresiasi Sastra ini kami harapkan menjadi titik temu seluruh unsur tersebut," ucapnya.
Dalam konteks digitalisasi, seharusnya dipandang sebagai peluang memperluas jangkauan karya sastra.
Yang terpenting adalah nilai dan identitas Sasak tetap terjaga meski hadir melalui medium yang baru. "Jangan dianggap sebagai tantangan," kata Sandi.
Sementara itu, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga KLU Raden Sawinggih, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Dia menilai, ini menjadi ruang bagi generasi muda mengenal sastra daerah.
Baca Juga: Sekolah Rakyat KLU Siap Beroperasi Akhir Agustus
Sastra daerah merupakan bagian dari identitas dan kekayaan budaya. Karena itu kegiatan seperti Pekan Apresiasi Sastra penting agar generasi muda tidak hanya mengenal sastra Sasak, tetapi juga mampu menciptakan dan mengembangkannya.
Ia menilai penguatan sastra lokal harus dilakukan melalui sinergi antara pemerintah, komunitas budaya, lembaga pendidikan, masyarakat, serta para pelaku sastra.
Anak-anak muda juga harus diberikan kesempatan untuk membaca, menulis, berbicara, dan berkarya melalui sastra.
"Dari sana akan tumbuh kecintaan terhadap bahasa dan budaya daerah," tutupnya.
Editor : Kimda Farida