LombokPost - Gili Festival yang digelar Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU) dinilai belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap promosi pariwisata.
Bahkan even berskala nasional itu tidak bisa meningkatkan kunjungan wisatawan ke tiga gili.
Ketua Komisi II DPRD KLU Kamah Yudiarto menilai sebagian besar rangkaian Gili Festival masih sebatas kegiatan seremonial.
Menurutnya, kegiatan tersebut belum diarahkan secara serius untuk menjawab kebutuhan promosi destinasi wisata.
Ia menilai anggaran yang dikeluarkan untuk berbagai kegiatan justru lebih banyak terserap untuk kebutuhan konsumsi dan pelaksanaan acara.
Sementara aspek promosi yang seharusnya menjadi salah satu tujuan utama festival belum terlihat maksimal.
Kamah mencontohkan, pemerintah semestinya melibatkan media maupun influencer untuk mengemas seluruh rangkaian kegiatan.
Baca Juga: Dewan Dorong Pemda Lombok Utara Optimalisasi PAD
Akan tetapi alih-alih mampu maksimalkan promosi, anggaran yang tersedia malah sangat minim. "Anggarannya hanya Rp 50 juta," katanya.
Dari sisi penganggaran ini menunjukkan ketidakseriusan Pemda dalam menggelar kegiatan yang masuk dalam Kharisma Event Nasional (KEN) itu. Dia melihat, Dinas Pariwisata terkesan hanya mengugurkan kewajiban.
Menurut Kamah, promosi Gili Festival tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan di lokasi.
Pemda harus mengetahui terlebih dahulu karakter wisatawan yang menjadi pasar utama tiga gili.
Dari pemetaan tersebut, promosi kemudian diarahkan secara spesifik melalui platform digital.
Baca Juga: Pemda KLU Komitmen Perluas Keterlibatan Masyarakat Hukum Adat dalam Pembangunan
Dengan strategi tersebut, Gili Festival tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi dapat menjadi momentu memperkuat branding tiga gili.
Hal senada disampaika Yanto Anggara, aktivitas LSM di Lombok Utara. Ia menyebut pelaksanaan festival selama ini terkesan seperti ajang coba-coba lantaran belum didahului kajian dan pemetaan pasar yang jelas.
Menurut Yanto, Dinas Pariwisata KLU semestinya melakukan asesmen awal terhadap karakteristik wisatawan di Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.
Data tersebut penting untuk menentukan strategi promosi dan pengembangan pariwisata yang tepat sasaran.
“Dinas Pariwisata kurang kreatif dalam melihat peluang seperti itu,” kritiknya.
Ia menilai kontribusi sektor pariwisata terhadap daerah juga belum maksimal.
Bahkan, menurutnya, persoalannya bukan sekadar capaian yang belum optimal, melainkan keseriusan pemerintah dalam mengelola sektor tersebut masih belum terlihat.
Baca Juga: Parade Desa dan Budaya Meriahkan HUT Lombok Utara ke-18
“Jangankan kata maksimal, kalau kita lihat keseriusan saja belum nampak dalam segala kegiatan pariwisata,” tegas Yanto.
Padahal, lanjutnya, Pemda KLU terus didorong meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Karena itu, sektor pariwisata yang menjadi salah satu potensi utama daerah seharusnya dikelola dengan strategi terukur, kreatif, dan berorientasi pada hasil.
Editor : Kimda Farida