LombokPost - Upaya memperkuat kesiapsiagaan bencana kini mulai menyasar ruang kelas di Kabupaten Lombok Utara (KLU).
Hal ini ditandai dengan penyusunan bahan ajar yang inklusif, sebagai bagian dari pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Langkah ini tidak sekadar mengenalkan jenis-jenis bencana, tetapi menargetkan lahirnya generasi yang benar-benar siap bertindak saat keadaan darurat terjadi.
Pengetahuan tentang kebencanaan tidak boleh berhenti di bangku teori. Melainkan harus bertransformasi menjadi keterampilan menyelamatkan diri dan membantu orang lain.
Inilah salah satu poin penyampaian materi dalam Diseminasi Bahan Ajar Literasi Kebencanaan, Kamis (13/8). Materi tersebut disampaikan Fauzal Iswandi dari BPBD Lombok Utara.
Fauzal mengatakan, penguatan literasi kebencanaan menjadi semakin penting. Terlebih daerah ini memiliki pengalaman pahit saat gempa bumi tahun 2018 yang meluluhlantakkan rumah, sekolah, dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Baca Juga: Satpol PP KLU Serahkan Ribuan Batang Rokok Ilegal ke Bea Cukai
Pengalaman itu harus menjadi pelajaran kolektif. Anak-anak tidak cukup hanya mengenal istilah bencana, tetapi juga perlu memahami langkah konkret untuk melindungi diri ketika situasi darurat terjadi.
Karena itu, Fauzal menekankan pentingnya pendidikan kebencanaan sejak dini di sekolah.
Siswa tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis seperti evakuasi mandiri, kerja sama, dan pengambilan keputusan saat krisis.
Konsep literasi kebencanaan kemudian dirangkum dalam empat kemampuan utama. Yaitu tahu tentang bencana, siap menghadapinya, bisa menyelamatkan diri, serta peduli terhadap sesama.
Baca Juga: Pemda KLU Punya Perda Ketertiban Usaha
Dalam simulasi gempa, misalnya, siswa diajarkan untuk tetap tenang, segera berlindung di tempat aman, dan melindungi kepala.
Setelah situasi dinyatakan aman, mereka diarahkan keluar secara tertib menuju titik kumpul dengan mengikuti instruksi guru atau petugas.
Aspek inklusivitas juga menjadi perhatian penting. Sekolah aman bencana diharapkan mampu melindungi seluruh siswa tanpa terkecuali.
Termasuk mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas, pendengaran, pengelihatan, maupun kesulitan memahami instruksi.
Baca Juga: Pekan Apresiasi Sastra KLU 2026 jadi Ruang Berkreasi
Karena itu, pembelajaran kebencanaan tidak cukup hanya melalui bacaan. Siswa perlu diajak berlatih melalui cerita, simulasi, hingga praktik langsung agar pengetahuan benar-benar berubah menjadi keterampilan yang melekat.
Fauzal menegaskan, perubahan kecil dalam cara pandang dan keterampilan kebencanaan dapat menjadi penentu keselamatan saat bencana benar-benar terjadi. "Gempa tidak bisa diprediksi, apalagi dicegah sepenuhnya," katanya.
Namun, dampaknya bisa diminimalkan jika masyarakat memiliki kesiapsiagaan yang baik. Karena itulah, belajar kebencanaan sejak dini bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan investasi keselamatan untuk masa depan.
Editor : Kimda Farida