Pemdes Bayan Luruskan Konsep Watu Telu Masyarakat Bayan

Habibul Adnan • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 15:45 WIB
KARYA ILMIAH: Dua mahasiswa KKN-PPM UGM menyerahkan hasil dokumentasi bertajuk Arsip Ingatan Bayan.
KARYA ILMIAH: Dua mahasiswa KKN-PPM UGM menyerahkan hasil dokumentasi bertajuk Arsip Ingatan Bayan.

LombokPost - Konsep budaya Bayan selama ini kerap dimaknai berbeda oleh sejumlah pihak. Salah satunya terkait istilah Watu Telu. Di mana istilah ini sering disederhanakan sebagai praktik Salat tiga waktu.

Kepala Desa Bayan Satradi mengatakan, pemaknaan tersebut tidak sesuai dengan pemahaman masyarakat setempat.

Menurutnya, penyederhanaan makna budaya Bayan seperti itu justru melahirkan pandangan keliru yang dapat melukai hati masyarakat.

“Nyatanya, bukan itu maksudnya. Kami di sini banyak lulusan pesantren dan kami mengamalkan ajaran Islam sebagaimana mestinya,” kata Satradi.

Ia menegaskan, nilai budaya yang berkembang di Bayan tidak lepas dari kehidupan masyarakat yang juga menjalankan ajaran Islam.

Baca Juga: Satpol PP KLU Serahkan Ribuan Batang Rokok Ilegal ke Bea Cukai

Karena itu, pemahaman terhadap tradisi dan budaya Bayan perlu melihat konteks sejarah serta nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, Satradi mengapreasi adanya upaya secara ilmiah mendokumentasikan warisan budaya masyarakat Bayan.

Salah satunya yanh dilakukan mahasiswa KKN-PPM UGM. Dokumentasi tersebut dikemas dalam catatan bertajuk Arsip Ingatan Bayan.

Arsip ini disusun berdasarkan referensi ilmiah, wawancara dengan tokoh adat, diskusi bersama masyarakat, serta observasi lapangan.

Dokumentasi itu salah satunya dimaksudkan untuk meluruskan pemahaman mengenai konsep Wetu Telu.

Baca Juga: HKTI KLU Dorong Kebangkitan Sektor Pertanian

Dalam catatan itu dijelaskan secara lebih utuh, yang intinya tidak ada pengamalan Salat tiga waktu di kalangan pemeluk Islam Bayan.

Satradi berharap, pendokumentasian tersebut membantu masyarakat luar memahami budaya Bayan berdasarkan perspektif dan pengalaman masyarakat setempat.

Satradi menambahkan, pelurusan pemahaman budaya sangat penting agar tradisi tidak hanya dilihat dari bentuk luarnya. Tetapi juga dipahami nilai, filosofi, dan konteks kehidupan masyarakat.

Editor : Kimda Farida
budaya bayan watu telu bayan luruskan konsep watu telu pemdes bayan kades bayan