LombokPost – Keterbatasan sumber air baku masih menjadi kendala utama PDAM Amerta Dayan Gunung dalam memperluas cakupan pelayanan.
Saat ini, PDAM hanya mengandalkan sekitar 10 sumber air. Sementara di sisi lain, kebutuhan masyarakat terus meningkat.
Direktur PDAM Amerta Dayan Gunung Ramdhan Jayadi mengatakan, kondisi membuatnya tidak bisa leluasa memanfaatkan seluruh debit air yang tersedia.
Sebagian air dari sumber tersebut juga harus tetap dialokasikan untuk kebutuhan lain, seperti untuk sektor pertanian.
Keterbatasan sumber air paling terasa di Kecamatan Tanjung dan Pemenang. Dua wilayah tersebut tidak memiliki sumber air yang cukup untuk menopang kebutuhan pelayanan.
Sumber air terdekat untuk dua kecamatan itu berada di wilayah Kecamatan Gangga.
Baca Juga: Pemda KLU Pastikan Promosi dan Rotasi Jabatan Berbasis Kualifikasi dan Kinerja
Ramdhan menyebut, jarak dari instalasi pengolahan air (IPA) menuju wilayah Pemenang mencapai sekitar 28 kilometer.
Selain keterbatasan sumber dan jarak distribusi, kondisi geologi juga menjadi salah satu faktor yang tengah dikaji PDAM.
Sebelumnya, terang Ramadhan, Universitas Brawijaya telah melakukan kajian mengenai struktur tanah dan potensi sumber air di wilayah KLU.
Hasil kajian awal menunjukkan struktur bawah permukaan KLU didominasi batuan batu apung. Kondisi itu tidak kuat untuk menampung air yang ada,” ungkapnya.
Baca Juga: 943 Hektare Sawah di Lombok Utara Ditarget Terapkan Pertanian Modern
Penelitian kemudian dilanjutkan melalui kajian lapangan yang melibatkan sejumlah pakar bidang teknik perairan. Hasil penelitian belum diterima PDAM.
"Meski begitu, kita terus mencari titik-titik baru yang berpotensi menjadi sumber air baku," terang Ramdhan.
Keterbatasan sumber air di daratan berpengaruh terhadap rencana pemenuhan kebutuhan air bersih di kawasan tiga Gili.
Baca Juga: Gili Festival Tak Berdampak terhadap Promosi Pariwisata, Komisi II Sebut Hanya Gugurkan Kewajiban
Hingga kini, PDAM belum mampu membawa suplai air dari daratan menuju kawasan tersebut.
Untuk suplai air dari daratan itu, tidak menutup kemungkinan akan ada pembangunan jaringan pipa bawah laut sebagai salah satu alternatif.
Namun, menurutnya, opsi tersebut harus terlebih dahulu didukung kajian yang matang.
“Artinya yang penting ada kajian. Kita selalu membuka ruang, mau pipa bawah laut, mau visual atau apa pun namanya, semua kemungkinan terbuka,” ujarnya.
Editor : Kimda Farida