Namanya Deki Zulkarnaen. Dosen Akademi Bisnis Lombok (AKBIL) itu terpilih menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam World Diplomacy Forum (WDF) 2026 yang berlangsung di Bali, 7–9 Agustus 2026 lalu.
Deki menjadi satu dari sekitar 30 pemuda, akademisi, dan profesional dari berbagai negara yang terpilih mengikuti forum tersebut.
Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Filipina, Pakistan, Maroko, Australia, Amerika Serikat, India, Vietnam, Ghana, Kenya, Ekuador, Iran hingga Irak.
Yang membuat pengalaman itu terasa semakin istimewa, Deki menjadi satu-satunya peserta dari Lombok yang mendapatkan kesempatan fully funded. Sementara tiga delegasi Indonesia lainnya berasal dari Jakarta dan Surabaya.
Baca Juga: Desa Persiapan KLU Ditarget Definitif pada 2027
Bagi pria asal Dusun Muara Putat, Desa Pemenang Timur itu, kesempatan tersebut bukan sekadar perjalanan ke Bali.
Tapi yang membuatnya bangga adalah karena telah membawa nama daerah di forum internasional.
“Ada kebanggaan tersendiri bisa membawa nama Lombok dan NTB, dan kampus afiliasi saya AKBIL di tengah peserta dari berbagai negara,” kata Deki.
Forum yang diselenggarakan International Scholarship and Leadership Diplomacy (ISLD), Amerika Serikat, itu menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang. Filipina tercatat menjadi negara dengan jumlah delegasi terbanyak.
Tujuh peserta dari negara tersebut ikut ambil bagian dalam rangkaian WDF 2026. Selama tiga hari, peserta tidak hanya duduk mendengarkan paparan.
Mereka diajak memahami diplomasi dan kepemimpinan melalui diskusi, studi kasus, hingga simulasi penyelesaian persoalan.
Salah satu sesi yang paling berkesan bagi Deki adalah ketika peserta diberikan sebuah persoalan untuk dipecahkan bersama.
Baca Juga: Pengesahan Raperda LP2B Lombok Utara Tertunda Gara-gara Hal Ini
Masing-masing peserta membawa sudut pandang yang berbeda.
Mereka berdiskusi, menyampaikan argumentasi, mendengarkan pandangan peserta lain.
Kemudian mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama. "Pengalaman ini menjadi pelajaran tersendiri bagi saya," kata Deki.
Deki mengaku, dirinya juga mendapat kesempatan mengikuti sesi speech atau pidato.
Rangkaian forum kemudian ditutup dengan pemberian penghargaan serta kegiatan touring di sejumlah destinasi di Pulau Bali.
Tiga hari mengikuti forum internasional membuat Deki pulang dengan lebih dari sekadar sertifikat.
Ada pengalaman, pengetahuan, perspektif baru, dan yang tak kalah penting, jejaring internasional.
Baca Juga: Pemda KLU Siapkan BTT untuk Memenuhi Pasokan Air Bersih di Gili
“Banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan. Yang paling penting juga adalah koneksi. Kami bisa berkenalan dan membangun jaringan dengan peserta dari berbagai negara,” ujarnya.
Bagi Deki, jejaring tersebut tidak harus berhenti ketika forum berakhir. Justru dari pertemuan singkat itu bisa lahir peluang baru.
Mulai dari pertukaran informasi, kerja sama antarlembaga, pengembangan program bahasa, hingga peluang kolaborasi akademik.
Hal itu menjadi semakin relevan dengan tugas yang diembannya di AKBIL. Selain menjadi dosen, Deki dipercaya sebagai Kepala UPT Pusat Bahasa dan Urusan Internasional AKBIL.
Editor : Kimda Farida