Putri Victoria Tersentuh Kearifan Adat Bayan

Habibul Adnan • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 13:30 WIB
PUJI KEARIFAN ADAT: Putri Mahkota Swedia Victoria melihat hasil kerajinan tenun masyarakat adat Bayan.
PUJI KEARIFAN ADAT: Putri Mahkota Swedia Victoria melihat hasil kerajinan tenun masyarakat adat Bayan.

LombokPost — Putri Mahkota Swedia Victoria melanjutkan agenda di Lombok Utara dengan mengunjungi mata Air Mandala yang berada di kawasan hutan adat di Desa adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan Minggu (6/9). Ia juga mengikuti penanaman pohon di hutan adat tersebut.

Putri Victoria bertolak ke Bayan setelah menyambangi Gili Meno. Di Gili Meno, dia ikut menanam terumbu karang mengunjungi kawasan konservasi penyu, melihat tukik hingga bertemu dan berdialog dengan komunitas pembudidaya rumput laut. 

Di Bayan, Putri Victoria mendapat kesempatan melihat langsung kehidupan masyarakat adat.

Di mana masyarakat Bayan yang hingga kini masih menjaga hubungan erat antara manusia, alam, dan tradisi.

Ia mengaku kagum terhadap upaya masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan dan sumber mata air.

Menurutnya, pengetahuan serta kearifan lokal yang terus diwariskan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.

Baca Juga: DKD KLU Sosialisasi Lokalitas Pemajuan Kebudayaan

“Apa yang Bapak dan Ibu lakukan di sini sangat penting, bukan hanya bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga bagi upaya menjaga sumber daya alam yang ada. Mendengar pengetahuan dan kearifan lokal yang terus diwariskan kepada generasi mendatang merupakan sesuatu yang sangat penting,” ujar Putri Victoria.

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Putri Victoria. Ia bahkan mengaku tersentuh karena mendapat sambutan hangat dari masyarakat adat Karang Bajo.

“Saya sangat tersentuh dan merasa terhormat dapat menjadi bagian dari masyarakat di sini. Terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah menyambut saya dengan begitu hangat dan menerima saya sebagai bagian dari budaya masyarakat di sini,” katanya.

Pemekel Karang Bajo Nikrana mengatakan, masyarakat adat memiliki filosofi yang menempatkan bumi sebagai ibu yang harus dihormati dan dijaga.

Baca Juga: KLU Bakal Punya Pabrik Pengolahan Sampah, Pembangunan Masuk Tahap Finalisasi

Prinsip tersebut kemudian diwujudkan dalam berbagai aturan, prosesi, hingga tradisi yang mengatur hubungan manusia dengan alam.

“Hubungan masyarakat adat dengan alam dan hutan hingga hari ini terus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat Bayan,” katanya.

Nikrana menerangkan, di wilayah Bayan, terdapat empat kawasan hutan adat dengan sedikitnya 27 mata air.

Keberadaan sumber air tersebut sangat vital bagi kehidupan masyarakat, baik untuk kebutuhan air bersih maupun pertanian.

Baca Juga: Pemda KLU Siapkan BTT untuk Memenuhi Pasokan Air Bersih di Gili 

Karena itu, bagi masyarakat adat, menjaga hutan sama artinya dengan menjaga sumber kehidupan.

Kelestarian hutan menjadi salah satu kunci untuk memastikan mata air tetap mengalir dan dapat dimanfaatkan masyarakat hingga generasi mendatang.

Karang Bajo sendiri merupakan desa adat sekaligus desa wisata yang masih mempertahankan kehidupan dan tradisi masyarakat Bayan.

Potensi tersebut menjadikan desa ini tidak hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga ruang hidup tempat alam, budaya, dan masyarakat tumbuh berdampingan.

Dalam kunjungannya, Putri Victoria didampingi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, serta rombongan UNDP.

Mereka melihat langsung kehidupan masyarakat adat dan praktik pelestarian alam yang menjadi bagian dari keseharian warga Karang Bajo.

Editor : Kimda Farida
Masyarakat Adat Bayan putri mahkota swedia putri mahkota swedia berkunjung ke KLU tersentuh adat bayan mata air mandala