LombokPost - Utara kini lebih akrab dengan bahasa Indonesia. Mereka sudah jarang menggunakan Bahasa Sasak sebagai alat komunikasi sehari-sehari.
Kondisi ini menjadi kegelisahan tersendiri bagi Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Lombok Utara.
Ada warisan leluhur yang perlahan kehilangan suara. Bukan karena tak lagi memiliki penutur, melainkan karena semakin jarang terdengar di rumah-rumah.
Yaitu penggunaan Bahasa Sasak sebagai alat komunikasi sehari-hari. Anak-anak malah lebih akrab dengan bahasa Indonesia. Ini yang menyebabkan bahasa ibu perlahan kehilangan ruang di tengah keluarga.
"Padahal Bahasa Sasak bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menyimpan nilai kesantunan, kepatutan dan etika yang diwariskan antargenerasi," kata Ketua DKD KLU Kamardi.
Menyikapi hal itu, DKD KLU menggelar sosialisasi revitalisasi dan literasi bahasa ibu, kemarin (18/9). DKD mengadakan kegiatan itu berangkat dari keresahan masyarakat. “Kita menjawab keresahan, kegelisahan masyarakat, orang-orang tua, termasuk guru-guru," imbuh Kamardi.
Baca Juga: Semarak Budaya Selengen Jadi Ruang Kebersamaan Warga
Dia menambahkan, kondisi saat ini anak-anak sudah jauh dari standar warisan leluhur tentang berbahasa.
Perubahan itu paling mudah terlihat dari cara anak-anak berkomunikasi dengan orang tua maupun guru.
Sejumlah ungkapan dalam bahasa Sasak halus yang dahulu lazim digunakan kini mulai jarang terdengar.
Karena itu, DKD memilih sekolah sebagai salah satu pintu masuk revitalisasi. Anak-anak sejak jenjang TK, SD hingga SMP kembali diperkenalkan dengan bahasa Sasak sekaligus nilai-nilai yang melekat di dalamnya.
Bagi Kamardi, menghidupkan kembali bahasa Sasak bukan sebatas menghafalkan kosakata.
Tetapi bagian dari upaya mengembalikan cara bertutur yang mencerminkan penghormatan kepada orang lain.
Baca Juga: Tiga Srikandi NTB Bawa Kekayaan Budaya Mendunia, Hadir di Art Gallery of South Australia
“Tujuan kita adalah memulihkan kembali, memungut bahasa-bahasa yang hilang itu. Kemudian kita bisa mengarahkan kepada muatan lokal. Intinya adalah pelestarian,” katanya.
Namun, sekolah bukan satu-satunya ruang yang diharapkan menjadi tempat tumbuhnya kembali bahasa Sasak.
DKD Lombok Utara berencana membawa gerakan tersebut hingga ke desa dan dusun. Sebab, bahasa daerah pada dasarnya hidup dalam keseharian masyarakat.
Akademisi Linguistik Antropologi Dr. Suliadi mengatakan, fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran penggunaan bahasa Sasak, khususnya dialek yang hidup di Lombok Utara.
Kondisi itu perlu mendapatkan perhatian serius karena bahasa daerah dapat berada pada posisi aman hingga terancam punah.
Baca Juga: Lombok Utara Luncurkan Lima Inovasi Hasil PKN
Dia bahkan menyebut, Bahasa Sasak sudah masuk dalam posisi terancam punah. Hal ini terlihat fenomena di lapangan, di mana orang tua tidak mengajarkan bahasa lokal kepada anaknya sebagai bahasa pertama, tetapi langsung menggunakan bahasa Indonesia.
Menurut Suliadi, sekolah dan ruang publik memang memiliki pengaruh terhadap penggunaan bahasa. Namun, keluarga merupakan ruang paling awal dan penting dalam proses pewarisan bahasa ibu.
Ketika orang tua tidak lagi menggunakan bahasa Sasak kepada anak, proses pewarisan itu pun terputus.
Anak akhirnya tumbuh dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama, sementara bahasa leluhur kehilangan penutur.
Karena itu, revitalisasi tidak cukup hanya dilakukan melalui pembelajaran formal. Bahasa Sasak harus kembali hadir dalam berbagai aktivitas masyarakat, termasuk ruang publik dan pelayanan.
“Pengumuman-pengumuman di ruang publik bisa juga menggunakan bahasa Sasak,” usulnya.
Editor : Kimda Farida