LombokPost – Empat tower peringatan dini tsunami di Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang dibangun melalui dukungan membutuhkan pemeliharaan.
Setelah aset tersebut diserahterimakan kepada pemerintah daerah, tanggung jawab perawatan kini menjadi kewajiban Pemkab KLU.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KLU M. Zaldy Rahadian mengatakan, empat tower tersebut perlu mendapat perhatian. Sehingga fasilitas yang dibangun World Bank itu tetap berfungsi optimal saat dibutuhkan.
Menurutnya, tower yang dibangun pada 2025 itu membutuhkan anggaran untuk sejumlah pekerjaan pemeliharaan.
Termasuk pembangunan pagar atau tembok keliling. Pasalnya, sebagian tower berada di tengah permukiman warga dan berada di area terbuka.
“Mestinya dibutuhkan minimal untuk tembok keliling. Misalnya di Gondang itu langsung tidak ada batas, cukup riskan,” ujar Zaldy.
Baca Juga: Bupati Lombok Utara Dorong Pertamina Operasikan SPBU Tanjung
Pembangunan pagar dinilai penting untuk menjaga keamanan fasilitas dan mencegah orang yang tidak berkepentingan masuk ke area tower.
Terlebih, fasilitas tersebut merupakan bagian dari sistem peringatan dini yang digunakan untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana tsunami.
“Dari tahun kemarin kita sudah usulkan anggarannya. Memang karena ini sudah jadi aset daerah, maka jadi kewajiban kita untuk memelihara,” katanya.
Zaldy menjelaskan, sejak awal KLU mengusulkan pembangunan sembilan titik tower peringatan dini tsunami. Namun, pembangunan dilakukan secara bertahap.
Baca Juga: BAZNAS KLU Himpun Donasi untuk Korban Gempa NTT dan Kebakaran Sade
Saat ini baru terdapat empat tower, masing-masing di Desa Gondang, Segara Katon, Sokong, dan Desa Jenggala.
Selain empat lokasi tersebut, BPBD KLU masih mengusulkan pembangunan tower di kawasan Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.
Masing-masing gili diusulkan mendapat satu unit tower. Usulan lainnya berada di wilayah Pemenang dan Bayan.
Tower tersebut juga dilengkapi perangkat komunikasi berupa handy talky (HT). Perangkat itu digunakan untuk mendukung koordinasi dengan Pusdalops sebagai pusat pengendalian operasi penanggulangan bencana. “Ketika alarm ditekan, maka akan berbunyi,” terangnya.
Editor : Pujo Nugroho