LombokPost – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan inovasi terbaru dalam mitigasi risiko gempa melalui alat Akselerograf Rakyat Indonesia (ARI).
Perangkat ini ditampilkan dalam ajang Disaster Management Expo 2025 di Kompleks Gedung Olahraga dan Seni Mojopahit, Kota Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (1/10).
Periset Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) BRIN, Tio Azhar Prakoso Setiadi, menjelaskan bahwa ARI merupakan alat untuk merekam percepatan tanah saat terjadi gempa bumi.
“ARI merupakan alat untuk merekam percepatan tanah saat terjadi gempa bumi dan membantu analisis seismik serta mitigasi risiko gempa,” jelas Tio.
Menurut Periset Ahli Madya PRLSDA BRIN, Agustya Adi Martha, alat ARI dikembangkan dengan pendanaan dari Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP).
“Ke depan, ARI akan kita kembangkan sebagai instrumen utama untuk quick early warning system gempa bumi di seluruh Indonesia,” katanya.
Agustya menegaskan, meski waktu terjadinya gempa sulit diprediksi, penggunaan ARI dapat membantu mitigasi risiko gempa bumi di berbagai daerah.
“ARI dapat digunakan untuk mitigasi gempa bumi pada suatu tempat agar mudah dikenal dan manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat. Sedangkan periset dapat memanfaatkan data yang dihasilkan oleh alat ini sebagai bahan riset dan analisis mitigasi gempa bumi,” jelasnya.
Salah satu contoh penerapan inovasi ini dilakukan di Kabupaten Cianjur. BRIN bekerja sama dengan BPBD Cianjur dalam pemasangan sepuluh unit ARI di sepuluh titik lokasi.
“Alat tersebut dapat kita monitor dari jauh. Sehingga, ketika terjadi gempa bumi dapat memberikan informasi data secara real time berapa besaran kekuatan gempa bumi yang terjadi pada lokasi yang terpasang alat tersebut,” tambah Agustya.
Selain untuk deteksi dini gempa bumi, pengembangan ARI juga diarahkan untuk monitoring ketahanan infrastruktur vital seperti bendungan, jembatan, dan fasilitas energi.
Dengan begitu, potensi risiko kerusakan dapat segera terdeteksi dan ditindaklanjuti lebih cepat.
“Hal ini penting untuk mendukung ketahanan nasional dalam menghadapi bencana, sekaligus meminimalkan dampak sosial maupun ekonomi di masyarakat,” tegasnya.
Tidak hanya ARI, BRIN juga menampilkan sederet inovasi teknologi kebencanaan lainnya dalam pameran tersebut.
Di antaranya Seismograf Rakyat Indonesia (SRI) untuk pemantauan getaran gempa bumi, Indonesia Structure Health Monitoring (INA-SHM) untuk mendeteksi kondisi struktur bangunan, serta AWLR IRTIGA untuk pemantauan tinggi muka air secara otomatis.
Ada pula AWS + Air Quality, stasiun cuaca otomatis yang dilengkapi sensor kualitas udara, serta Alat Deteksi Longsor (ADeL) dan sistem Water Quality Monitoring yang berfungsi memantau kualitas air seperti pH, kekeruhan, dan oksigen terlarut.
Kepala BPBD Provinsi Papua Barat, Derek Ampnir, mengapresiasi langkah BRIN dalam memperkenalkan hasil riset kebencanaan kepada masyarakat.
“Untuk hasil riset BRIN dalam pameran ini, harusnya dapat diterapkan dan dimanfaatkan untuk penanggulangan bencana yang terjadi di tempat kami maupun seluruh Indonesia,” ujarnya.
Pameran Disaster Management Expo 2025 ini menjadi bagian dari peringatan Hari Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Nasional 2025 dengan tema “From Local Wisdom to Smart Solution.”
Acara ini diikuti oleh berbagai BPBD kabupaten/kota, relawan kebencanaan, BNPB, lembaga pemerintah, universitas, dan dunia usaha.
Terdapat 60 booth yang menampilkan teknologi penanggulangan bencana, edukasi kebencanaan, serta produk pemulihan pascabencana. Kegiatan ini diselenggarakan oleh BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BNPB RI.
“Setelah berdiskusi dengan berbagai kementerian, BPBD, dan industri, saya berharap dapat mengangkat program riset bersama terkait penanggulangan bencana dengan tema riset spesifik dari masing-masing daerah,” ujar Agustya.
“Kolaborasi lintas sektor sangat bermanfaat untuk keberhasilan pencegahan dan penanggulangan serta mitigasi bencana yang terjadi di seluruh Indonesia,” tambahnya.
Editor : Rury Anjas Andita