LombokPost - Keinginan memiliki smartphone keluaran terbaru seringkali menggoda masyarakat untuk menempuh jalan pintas melalui utang, baik lewat pinjaman online maupun cicilan tanpa perhitungan.
Namun, di balik kemilau teknologi tersebut, terdapat ancaman serius bagi kesehatan mental yang jarang disadari.
Sebab bisa membahayakan bila nekat berutang demi smartphone idaman karena bisa memicu depresi.
Beban Cicilan dan Dampak Psikologis
Sejumlah pakar kesehatan mental memperingatkan bahwa memaksakan diri memiliki barang mewah melalui utang dapat memicu gangguan psikologis jangka panjang.
Stres finansial akibat cicilan yang menumpuk terbukti menjadi pemicu utama.
Kecemasan Berlebih (Anxiety): Rasa khawatir setiap bulan menjelang jatuh tempo pembayaran.
Gangguan Tidur dan Depresi: Beban pikiran yang terus-menerus dapat menurunkan kualitas hidup secara drastis.
Rasa Malu Sosial: Tekanan untuk tetap terlihat "mampu" di media sosial sementara kondisi keuangan asli memburuk.
Baca Juga: Diduga Depresi, Pria di Kuripan Ditemukan Meninggal
Jangan Terjebak "Lifestyle Inflation"
Psikolog menyarankan agar masyarakat mampu membedakan antara kebutuhan fungsional dan keinginan demi gengsi semata. Memiliki ponsel idaman dengan cara berutang dinilai hanya memberikan kepuasan sesaat (instant gratification), namun meninggalkan dampak traumatis pada kesehatan mental jika berujung pada gagal bayar.
Jumlah utang yang tinggi dikaitkan dengan tingkat stres dan depresi yang lebih tinggi. Royal College of Psychiatrists mengumpulkan dan memeriksa temuan 50 lebih makalah dari waktu ke waktu menemukan bahwa laki-laki dan perempuan dengan perilaku kredit memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala depresi.
Lebih jauh dari itu, stres karena utang tidak hanya berhenti pada si peminjam melainkan juga kepada orang-orang terdekatnya. Si pelaku peminjaman bisa menjadi sakit hati kepada orang-orang terdekat, karena dianggap tidak bisa membantunya. Utang bisa membuat seseorang saling menyalahkan satu sama lain, bahkan bisa sampai merusak kepercayaan dan kualitas hidup seseorang.
Bijak Mengelola Keuangan
Masyarakat dihimbau untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan di awal tahun ini. Menabung dan membeli sesuai kemampuan finansial tetap menjadi solusi terbaik agar tetap update dengan teknologi tanpa harus mengorbankan stabilitas psikologis.
Editor : Kimda Farida