LombokPost - Di tengah sorotan tajam terhadap dampak negatif dunia digital, CEO Pinterest, Bill Ready, mengambil langkah berani yang mengejutkan industri teknologi global.
Berbeda dengan sikap defensif yang sering ditunjukkan bos Meta maupun X (Twitter), Ready secara terbuka mendesak pemberlakuan larangan global penggunaan media sosial bagi remaja di bawah usia 16 tahun.
Pernyataan ini menandai pergeseran radikal dari sekadar penguatan fitur keamanan menuju pembatasan struktural berbasis regulasi yang ketat.
Desak Standar Global yang Tegas
Melalui platform profesional LinkedIn, Ready menegaskan bahwa pendekatan industri saat ini belum cukup melindungi generasi muda dari risiko kesehatan mental.
Ia menuntut adanya standar internasional yang tidak hanya melarang akun, tetapi juga memberikan akuntabilitas kepada penyedia sistem operasi ponsel (OS) dan pengembang aplikasi.
Baca Juga: Tujuh Kementerian Kawal Pembatasan Medsos untuk Anak
"Kita membutuhkan standar yang jelas: tidak ada media sosial untuk remaja di bawah 16 tahun. Aturan ini harus disertai penegakan yang konsisten dan tegas bagi seluruh ekosistem digital," tulis Ready sebagaimana dilansir dari The Guardian, Selasa (24/3).
Celah Regulasi dan Strategi Bisnis
Sikap Ready ini muncul saat negara-negara seperti Australia mulai menerapkan pembatasan usia secara nasional.
Menariknya, Pinterest saat ini masih memiliki celah regulasi yang memungkinkan pengguna di bawah 16 tahun memiliki akun, yang secara tidak langsung memberikan keunggulan kompetitif dibanding kompetitor seperti Instagram.
Namun, pengamat menilai langkah ini merupakan strategi diferensiasi. Dengan memosisikan diri sebagai platform yang "aman" dan "inspiratif", Pinterest berusaha menarik simpati Generasi Z (rentang usia 17-25 tahun) yang kini menjadi kunci pertumbuhan platform mereka.
Di saat raksasa seperti Google dan Meta menghadapi tuduhan hukum di Los Angeles terkait ketergantungan digital, Pinterest justru memilih jalur moderasi yang lebih ekstrem.
Babak Baru Tanggung Jawab Sosial
Usulan Bill Ready ini membuka babak baru dalam hubungan antara perusahaan teknologi dan regulator dunia.
Jika sebelumnya pertumbuhan jumlah pengguna adalah prioritas utama, kini tanggung jawab sosial dan perlindungan pengguna muda mulai mendominasi agenda kebijakan teknologi tahun 2026.
Dunia kini menanti apakah langkah berani CEO Pinterest ini akan diikuti oleh pemimpin teknologi lainnya, atau justru memicu perdebatan panjang mengenai batas kebebasan digital bagi anak-anak di era modern.
Perlindungan Gen Z di NTB
Isu kesehatan mental remaja akibat penggunaan media sosial juga menjadi perhatian serius di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dengan tingginya angka penetrasi internet di kalangan pelajar di Mataram dan sekitarnya, desakan global ini memberikan sinyal bagi para orang tua dan pendidik lokal untuk lebih selektif.
Tren di tingkat global ini menunjukkan bahwa pengawasan orang tua saja tidak cukup. Perlu ada benteng regulasi dari penyedia platform itu sendiri untuk mencegah dampak cyberbullying dan gangguan kecemasan pada anak-anak kita.
Editor : Kimda Farida