LombokPost– Akal imitasi (AI) memang menjanjikan lonjakan produktivitas. Namun, di balik euforia teknologi tersebut, bank sentral dunia mulai mencermati risiko baru yang bisa merembet ke stabilitas keuangan.
Kepala Bank for International Settlements (BIS) Pablo Hernandez de Cos mengingatkan, bisnis AI beserta belanja infrastrukturnya kini sudah mencapai skala yang cukup besar untuk memengaruhi perekonomian global.
Bagi bank sentral, AI memang tidak mengubah mandat kebijakan moneter. Namun, perkembangan teknologi tersebut membuat perekonomian semakin sulit dibaca karena secara bersamaan memengaruhi permintaan, penawaran, hingga pasar keuangan.
BIS memperkirakan lima perusahaan teknologi terbesar dunia akan menggelontorkan investasi lebih dari USD 1 triliun untuk AI sepanjang 2025–2026. Sementara itu, estimasi industri menunjukkan investasi AI global berpotensi melonjak dari sekitar USD 500 miliar saat ini menjadi hingga USD 4 triliun pada 2030. ”Potensi AI itu nyata,” ujar Hernandez de Cos dalam konferensi yang diselenggarakan Bank Sentral India, seperti dikutip Reuters, kemarin (10/9).
Namun, besarnya potensi tersebut juga membawa pekerjaan rumah. Menurut dia, dampak jangka panjang AI akan sangat bergantung pada pilihan kebijakan, investasi di bidang keterampilan dan infrastruktur, serta seberapa luas manfaat teknologi tersebut dapat dibagikan.
Salah satu titik yang mendapat perhatian adalah sumber pembiayaan ledakan investasi AI. Hernandez de Cos menyebutkan, lonjakan investasi tersebut semakin banyak dibiayai melalui utang dan kredit swasta, bukan semata-mata dari laba perusahaan.
Kondisi itu perlu dicermati karena sebagian pendanaan masih sulit dipetakan dan memiliki keterkaitan satu sama lain. ”Jika ekspektasi keuntungan dari bisnis AI tidak terpenuhi, valuasi yang tinggi dan struktur pembiayaan yang kompleks berpotensi memperbesar tekanan di pasar keuangan,” tuturnya.
Di sisi lain, AI mulai mengubah peta perdagangan global. Negara yang memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok teknologi, seperti Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan Taiwan, telah menikmati keuntungan dari kuatnya harga ekspor cip serta peralatan yang berkaitan dengan AI. (bil/dio)
Editor : Redaksi Lombok Post