LombokPost – Petenis peringkat 4 dunia Iga Swiatek membuka babak baru dalam kariernya jelang musim lapangan tanah liat 2026. Usai tersingkir dini di Miami Open, Swiatek melakukan perubahan besar dengan menunjuk pelatih baru Francisco Roig.
Roig bukan nama sembarangan. Ia merupakan sosok lama di tim Rafael Nadal, mendampingi sang legenda dari 2005 hingga 2022. Keputusan ini diambil Swiatek setelah berpisah dengan pelatih sebelumnya, Wim Fissette.
Cari Sosok Berpengalaman, Swiatek Bertindak Cepat
Swiatek mengakui bahwa mencari pelatih bukan hal mudah. Sepanjang kariernya, ia jarang melakukan perubahan tim. Namun, situasi mendesak membuatnya harus bergerak cepat.
“Saya mencari pelatih yang kuat secara teknis dan punya pengalaman menghadapi berbagai situasi di tur,” ujar Swiatek saat hari media Porsche Tennis Grand Prix Stuttgart.
Pilihan pun jatuh pada Roig. Menurutnya, pengalaman panjang sang pelatih menjadi faktor kunci, terutama dalam membenahi aspek teknis yang selama ini kurang maksimal.
Tempaan di Akademi Nadal Jadi Titik Balik
Sebelum tampil di Stuttgart, Swiatek menghabiskan waktu di Mallorca untuk berlatih di Rafa Nadal Academy. Di sana, ia tak hanya berlatih bersama Roig, tetapi juga mendapat kesempatan langka berlatih langsung dengan Nadal.
Bagi Swiatek, pengalaman ini memberi nilai tambah besar. “Saya ingin lingkungan latihan yang solid tanpa gangguan. Mallorca adalah tempat yang tepat,” ungkapnya.
Meski demikian, ia memastikan Nadal tidak akan masuk dalam tim pelatih secara permanen. Kehadiran sang legenda lebih sebagai inspirasi dalam proses adaptasi.
Fokus Perbaikan, Bukan Hasil Instan
Swiatek menyadari bahwa perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam. Ia memilih pendekatan realistis dengan memberi waktu pada proses adaptasi bersama Roig.
Kolaborasi awal dinilai positif. Roig dinilai cepat membaca kekurangan teknis dan membantu Swiatek keluar dari pola permainan yang kurang efektif.
Namun, ekspektasi kini diturunkan. “Saya tidak ingin terlalu keras pada diri sendiri. Ini proses, bukan sesuatu yang instan,” tegasnya.
Target Bangkit di Musim Tanah Liat
Sebagai peraih empat gelar Roland Garros, lapangan tanah liat selalu menjadi panggung terbaik bagi Swiatek. Namun, musim lalu tak berjalan sesuai harapan.
Baca Juga: Comeback Ganas! Mirra Andreeva Bangkit Tekuk Potapova, Sabet Gelar Linz 2026
Karena itu, Stuttgart menjadi momentum awal kebangkitan. Swiatek kini mengusung pendekatan berbeda: fokus pada progres, bukan tekanan hasil. Ia ingin membangun kembali kepercayaan diri secara bertahap sebelum memasuki turnamen besar berikutnya.
“Ini bukan sprint, ini maraton,” tutupnya.
Editor : Rury Anjas Andita