LombokPost – Janice Tjen kembali menunjukkan perlawanan sengit di Cincinnati Open 2026. Petenis putri Indonesia itu memang harus mengakhiri langkahnya setelah dikalahkan unggulan kelima, Mirra Andreeva, tetapi perjuangannya membuat laga babak ketiga berlangsung dramatis.
Andreeva akhirnya menang 6-1, 7-6 (5) dalam waktu 1 jam 42 menit. Petenis Rusia itu membutuhkan empat match point untuk menuntaskan perlawanan Tjen yang bangkit luar biasa pada set kedua.
Kemenangan tersebut membawa Mirra Andreeva ke babak 16 besar Cincinnati Open. Ini juga menjadi kali pertama sejak menjuarai Roland Garros pada Juni lalu Andreeva mampu memenangi dua pertandingan secara beruntun.
Baca Juga: Draw Cincinnati Open 2026: Aryna Sabalenka-Naomi Osaka hingga Elena Rybakina-Iga Swiatek Berpotensi
Namun, skor akhir tidak sepenuhnya menggambarkan betapa ketatnya persaingan pada set kedua.
Tjen Bangkit Setelah Tertinggal Telak
Andreeva tampil dominan sejak awal pertandingan. Ia hanya membutuhkan 28 menit untuk merebut set pertama 6-1.
Tjen kesulitan menemukan ritme. Sepuluh kesalahan sendiri, termasuk sembilan dari pukulan forehand, membuat petenis Indonesia tersebut kehilangan kendali atas permainan.
Baca Juga: Novak Djokovic Dapat Undian Berat di Cincinnati, Berpotensi Jumpa Jack Draper di Babak Ketiga
Situasi berubah drastis setelah pergantian set. Usai mendapat medical timeout, Tjen kembali ke lapangan dengan tangan yang dipasangi strap. Namun, alih-alih menurun, level permainannya justru meningkat.
Forehand Tjen mulai lebih terkontrol. Ia tetap bermain agresif, tetapi mampu mengurangi kesalahan. Beberapa pukulan menyilang dan inside-in yang diarahkan ke garis menjadi senjata penting untuk menekan Andreeva.
Perlahan, Tjen mampu mengimbangi permainan petenis Rusia tersebut.
Enam Deuce dan Dua Match Point Diselamatkan
Tekanan terbesar datang ketika set kedua memasuki fase krusial. Saat tertinggal 3-4, Tjen menyelamatkan dua break point yang bisa saja membuat Andreeva melakukan servis untuk pertandingan.
Kemudian pada kedudukan 4-5, Tjen kembali berada di ujung tanduk. Ia harus melewati gim panjang dengan enam kali deuce.
Dua match point Andreeva berhasil dipatahkan. Tjen menyelamatkan peluang pertama melalui service winner, kemudian menggagalkan kesempatan kedua lewat forehand winner ke sudut lapangan.
Baca Juga: Jannik Sinner Mundur dari Cincinnati Open, Cedera Lutut Jadi Penghalang Jelang US Open
Momentum pun beralih. Namun, Andreeva juga menunjukkan mental juara. Saat memegang servis untuk kedudukan 6-5, ia sempat tertinggal 0-30. Dalam situasi tersebut, Andreeva merespons dengan ace dan backhand winner sebelum merebut empat poin beruntun. Set kedua akhirnya harus ditentukan lewat tie-break.
Andreeva Tetap Tenang di Tie-Break
Tjen sempat memimpin 4-3. Namun, Andreeva kembali menemukan solusi lewat backhand winner dan ace untuk membalikkan keadaan. Pada kedudukan 5-4, giliran Tjen berada dalam tekanan. Permainan berbasis forehand yang sepanjang set kedua menjadi kekuatannya justru menghasilkan kesalahan pada momen krusial.
Forehand Tjen melebar dan memberi Andreeva dua match point tambahan. Kesempatan kedua langsung dimanfaatkan. Andreeva mengakhiri pertandingan dengan forehand down the line yang membuat Tjen salah langkah.
Baca Juga: Cedera Pergelangan Tangan Belum Pulih, Carlos Alcaraz Mundur dari Cincinnati Open 2026
"Saya merasa di set kedua dia mulai melakukan servis dengan lebih baik. Persentase first serve-nya meningkat dan saya sedikit kesulitan mengembalikan servisnya," kata Andreeva.
Menurutnya, servis menjadi fondasi penting untuk bertahan dari tekanan Tjen. "Saya terus mengatakan kepada diri sendiri, 'Mirra, kamu harus mempertahankan servis.' Saya mencoba fokus untuk mempertahankan servis dan tidak memikirkan peluang-peluang yang terlewat," lanjutnya.
Tantangan Berikutnya: Marta Kostyuk
Lolosnya Andreeva ke babak 16 besar sekaligus membuka duel berikutnya melawan Marta Kostyuk. Ini akan menjadi pertemuan keempat kedua pemain sepanjang 2026. Kostyuk masih unggul 2-1 dalam rekor head to head, tetapi Andreeva memenangi pertemuan terakhir mereka di semifinal Roland Garros.
Bagi Andreeva, kemenangan atas Tjen juga memiliki arti penting secara mental. Setelah meraih gelar Grand Slam pertama di Roland Garros, ia mengaku sempat merasakan tekanan besar karena ekspektasi terhadap dirinya meningkat.
Andreeva mengatakan bantuan psikolog membantunya mengubah cara pandang terhadap pencapaian tersebut.
"Sekarang saya mencoba melihatnya sebagai turnamen biasa yang saya menangi. Tiga turnamen yang saya menangi tahun ini—Adelaide, Linz, dan Roland Garros—semuanya sama. Saya mencoba mendekatinya dengan cara seperti itu," ujarnya.
Editor : Rury Anjas Andita
Sumber : wtatennis.com