Sebab kondisinya saat ini sangat memprihatinkan. Hal itu yang membuat para sopir kendaraan enggan menggunakan terminal yang dibangun sejak tahun 2003 tersebut.
“Ini yang sedang kita siapkan,” tandas Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) NTB H Lalu Mohammad Faozal usai rapat tertutup di ruang Wakil Bupati Loteng HM Nursiah, kemarin (21/7).
Dikatakan, yang pasti Terminal Renteng sudah berubah tipe. Dari sebelumnya tipe C menjadi tipe B. Atas dasar itulah, Dishub NTB melakukan pembenahan dan pembangunan.
“Yang rusak akan diperbaiki, yang belum ada akan diadakan dan yang sempit akan diperluas,” tegasnya.
Pantauan Lombok Post, suasana terminal yang berdiri di Kelurahan Renteng dan Kelurahan Leneng tersebut sepi. Tidak ada satu kendaraan pun yang terparkir.
Selama ini, para sopir kendaraan menunggu penumpang di terminal bayangan. Lokasinya di perempatan SPBU Praya atau jalan Gajah Mada, perempatan kampus IPDN dan Jalan Sudirman.
Untuk tarif retribusinya yakni AKAP Rp 2.500 per sekali masuk, AKDP Rp 2.000 per sekali masuk, angkutan desa dan kota Rp 1.000 per sekali masuk.
Kemudian bus pariwisata, taksi, mobil travel dan pikap masing-masing Rp 2.000 per sekali masuk. Berikut motor Rp 1.000 per sekali masuk dan sepeda Rp 500 per sekali masuk.
Hal sesuai Perda NTB Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Retribusi Daerah. “Begitu Terminal Renteng sudah mantap, saya percaya sudah tidak ada lagi yang menggunakan terminal bayangan,” papar mantan Kepala Dinas Periwisata (Dispar) NTB tersebut.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Loteng H Lendek Jayadi menambahkan, fungsi transportasi di Gumi Tatas Tuhu Trasna sangat penting. Mengingat beberapa bulan ke depan, Loteng menjadi tuan rumah Superbike.
“Salah satunya, keberadaan Terminal Renteng maupun terminal lainnya di daerah kita,” kata Sekretaris Disbudpar Loteng tersebut, di tempat yang sama. (dss/r5) Editor : Redaksi