LombokPost-Gunung Jae menawarkan kombinasi wisata alam yang menakjubkan dengan keberadaan danau, camping ground, dan bendungan yang memiliki penampilan menyerupai air terjun.
Sulhan Hadi, seorang penduduk asli Lombok Timur yang kini menetap di Narmada.
Sulhan kini menjadi salah satu pengayuh sampan di Gunung Jae.
Meskipun awalnya berasal dari desa yang jauh, dia memilih tinggal di sana untuk mencari nafkah bagi keluarganya, terutama setelah istrinya melahirkan bayi kembar laki-laki sebulan yang lalu.
”Wisata ini sudah dari empat tahun yang lalu,” kata Sulhan sambil mengayuh sampan yang ditumpangi dua orang penumpangnya.
Pria yang akrab disapa Han ini menceritaka, meski mulai ramai sejak empat tahun yang lalu, wisata Gunung Jae masih tetap ada hingga saat ini.
Dengan kombinasi keindahan alam dan fasilitas yang tersedia, Gunung Jae menjadi destinasi wisata yang menarik bagi mereka yang mencari petualangan alam sekaligus ketenangan di tengah alam Lombok Barat yang memikat.
”Ini kalau Sabtu-Minggu pagi pasti ramai. Banyak yang camping atau cuma datang foto di danau,” terang Han.
Meskipun pada hari biasa, Gunung Jae juga tetap menyambut banyak pengunjung.
Terutama dari kalangan pemuda yang mengambil waktu luang mereka untuk berlibur.
Mereka sering datang untuk hanya sekadar menikmati udara segar dan pemandangan yang menenangkan.
Meskipun tidak sepadat saat akhir pekan, tetapi suasana tetap hidup dengan kegiatan dan interaksi sosial di sekitar area wisata.
Han menarik harga Rp 20 ribu per orang untuk menikmati pemandangan menggunakan sampan yang dikayuhnya. Dengan waktu sepuas yang diinginkan pengunjung saat mengitari danau.
”Kalau ramai bisa puluhan yang naik sampan. Ada bebek-bebekan juga banyak peminat. Lumayan kita bisa dapat Rp 100 ribu per hari,” ucapnya.
Wisatawan juga menyebut danau di Gunung Jae ini sebagai miniatur Danau Segara Anak yang ada di Gunung Rinjani. Danau ini dikelilingi pemandangan pegunungan yang indah di sisi utaranya, menciptakan latar belakang alami yang menakjubkan bagi para pengunjungnya.
Suasana di sekitar danau terasa sejuk dan menenangkan, cocok untuk bersantai atau menikmati piknik di tepi air.
Salah satu daya tarik utama dari danau Gunung Jae adalah suara gemericik air yang jatuh dari sungai dan kemudian mengalir menuju bendungan.
Bunyi alam ini menambahkan nuansa damai dan alami, menciptakan pengalaman yang menyegarkan bagi semua yang mengunjungi tempat ini.
”Meski kemarau, disini itu airnya tidak pernah surut. Karena ada dua sungai yang menjadi sumber airnya disini,” jelas Sulhan sambil menunjukkan lokasi dua sungai itu.
Selain menjadi pengayuh sampan, Sulhan juga mengajak penumpangnya untuk melihat bendungan Gunung Aur. Bendungan ini beberapa waktu terakhir banyak didatangi pengunjung karena sedang viral di tiktok.
Bendungan Gunung Aur yang memberikan nuansa yang unik. Bentuknya yang menyerupai air terjun menambah pesona alam Gunung Jae, menciptakan panorama yang menakjubkan untuk dinikmati oleh pengunjung yang berkunjung.
”Sebenarnya sudah lama. Tapi baru-baru saja diviralkan, jadinya ramai,” katanya.
Lapak-lapak kecil yang menjajakan makanan khas daerah juga tersedia disini.
Masyarakat sekitar yang cerdas memanfaatkan geliat wisata ini dengan menawarkan produk lokal yang khas dan menarik bagi pengunjung. Tidak hanya itu, pekerjaan paruh waktu seperti pengayuh sampan juga semakin diminati di sekitar Danau Gunung Jae.
Para pengunjung yang ingin merasakan keindahan danau dengan cara yang lebih intim dapat menyewa sampan dari warga sekitar, memberikan pendapatan tambahan bagi mereka.
Di sekitar Gunung Jae, terdapat masyarakat lokal yang bekerja sebagai pengeruk pasir. Mereka terlibat dalam kegiatan mengambil pasir dari sungai atau danau untuk keperluan konstruksi dan industri lokal.
Meskipun berada di lingkungan yang indah, kegiatan ini merupakan salah satu sumber penghasilan utama bagi sebagian penduduk setempat.
Kehadiran para pengeruk pasir ini juga memberikan aspek sosial ekonomi yang menarik untuk diamati pengunjung.
Pengalaman ini mengingatkan bahwa di balik keindahan alam Gunung Jae, terdapat kehidupan masyarakat yang beragam dan kegiatan ekonomi yang mendukung keberlangsungan hidup mereka.
”Itu mereka dari pagi sampai siang ngeruk pasir. Nanti sore mungkin ada yang jadi petani, pedagang, dan lainnya,” pungkasnya. (chi/r12)
Editor : Kimda Farida