LombokPost-Setiap hari bergulat dengan deadline, kemacetan, dan polusi udara ibu kota, itu tandanya tubuh dan jiwa merindukan satu hal, terapi alam yang sesungguhnya. Jawabannya tersembunyi jauh di kaki Gunung Rinjani, Lombok Utara, sebuah permata bernama Air Terjun Tiu Kelep.
Tiu Kelep bukan sekadar air terjun biasa. Namanya diambil dari bahasa Sasak, di mana “Tiu” berarti kolam renang dan “Kelep” berarti terbang.
Nama ini secara puitis mendeskripsikan pemandangan air yang jatuh deras dari ketinggian, menciptakan kabut tebal yang seolah membawa air itu terbang sebelum menyentuh kolam alami yang jernih di bawahnya.
Larasati bersama tiga kawannya, warga asal Kota Mataram, sengaja berlibur ke Air Terjun Tiu Kelep ini untuk menikmati keindahan yang membius dan diyakini mampu mergenerasi diri.
“Setiba di lokasi, semua penat dan beban pikiran seketika menguap,” ujarnya.
Ada beberapa hal yang dapat ditemukan di Tiu Kelep. Air terjun setinggi sekitar 45meter ini memamerkan aliran utama yang sangat deras. Di sisi tebing, aliran air lainnya menjatuhkan diri seperti tirai-tirai tipis.
Pemandangan ini menciptakan efek visual yang memukau, dikelilingi tebing-tebing yang diselimuti lumut hijau dan pepohonan rimbun.
Kabut air dingin yang dihasilkan berfungsi sebagai pendingin alami, membuat udara di sekitar terasa segar luar biasa.
Selain itu, kolam alami di bawah Tiu Kelep sangat jernih dan dingin, cocok untuk berendam.
Masyarakat lokal percaya air di sini suci dan membawa berkah, bahkan ada mitos yang menyebutkan bahwa mandi di pusaran airnya bisa mendatangkan keberuntungan dan membuat awet muda.
“Terlepas dari mitosnya, berenang di sini setelah trekking panjang adalah cara tercepat untuk memulihkan energi,” ucap wanita kelahiran 1998 itu.
Khairunnisa menambahkan, petualangan menuju Tiu Kelep adalah bagian terbaik dari terapi alami ini.
Sebelum mencapai Tiu Kelep, pengunjung akan disambut oleh Air Terjun Sendang Gile yang lebih mudah diakses.
Selanjutnya, harus bersiap untuk trekking selama 30-45 menit melewati hutan tropis yang lebat. Disini, pengunjung akan menuruni anak tangga, melintasi jembatan beton, dan menyeberangi sungai berbatu.
“Sepanjang perjalanan, suara gemericik air dan kicauan burung menjadi soundtrack alami, meredakan stres lebih efektif daripada sesi spa manapun,” ucap Nisa akrab disapa.
Total waktu tempuh dari Kota Mataram hingga tiba di Tiu Kelep (termasuk trekking) adalah sekitar 3,5 hingga 4 jam perjalanan. Namun letih yang dilalui ini akan terbayar dengan pemandangan indah di setiap kilometernya.
Untuk mempermudah dan menjamin keamanan, terutama saat melintasi jalur trekking yang berbatu dan basah, sangat disarankan untuk menyewa jasa pemandu lokal dari Desa Senaru.
Mereka tidak hanya menunjukkan jalan, tetapi juga dapat menceritakan legenda-legenda menarik seputar Rinjani dan Tiu Kelep.
Editor : Siti Aeny Maryam